Posted on

Solar Panel Memberi Seberkas Cahaya

Solar Panel Memberi Seberkas Cahaya

Negara kita sebenarnya kaya akan sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan, sumber daya alam tersebut tanpa kita sadari bisa ditemukan di sekitar kita. Salah satunya bisa kita lihat dengan berlimpahnya cahaya matahari sebagai sumber energi yang bersih, murah dan terbarukan. Namun untuk sumber energi seperti ini masih belum dimanfaatkan secara optimal. Untuk orang awam, kesan yang tercipta dari sumber energi ini adalah membutuhkan alat yang mahal, tidak efisien, masih dijangkau oleh kalangan terbatas serta rumit dalam penggunaannya. Apakah benar seperti itu? Kita bisa ambil contoh dari sebuah kisah berikut ini. Ada sebuah desa yang terletak di sebuah pedalaman di Indonesia, sebut saja Desa G. Dari pusat kota sendiri, perjalanan menuju Desa G ini memakan waktu sekitar 4 jam dan jarak dari Desa G ke desa lainnya bisa dibilang agak jauh. Pada awalnya, Desa G ini tidak pernah mendapat pasokan listrik sama sekali, untuk sumber penerangan masih mengandalkan lampu dari minyak tanah serta untuk bekerja para warganya pun masih memakai alat-alat seadanya dan berbahan bakar bensin.

Tetapi apabila malam tiba, Desa G ini pun menjadi terkadang gelap gulita karena jatah listrik yang diberikan harus dibagi ke beberapa desa lain di sekitarnya. Selama ini untuk penerangan pada malam hari mereka menggunakan minyak tanah dan genset berbahan bakar solar dan bensin. Selain terletak di pedalaman, jalan akses menuju desa ini masih berupa tanah yang masih bertabur batu kerikil dan apabila turun hujan, dipastikan lumpur maupun becek menjadi hambatan berat. Dalam satu malam saja, warga Desa G bisa menghabiskan 5 liter solar dan dalam satu bulan untuk mendapatkan cahaya listrik serta beraktivitas di malam hari dengan menggunakan listrik dari genset berbahan bakar solar, para warga harus merogoh kocek antara Rp 200.000 hingga Rp 500.000. Biaya yang cukup mahal bukan? Hal ini terus terjadi setiap malam, mengingat aliran listrik ke desa tersebut hanya dari siang hingga sore hari dan pada malam hari jika bahan bakar untuk genset habis, para warga pun terpaksa beristirahat dalam keadaan yang gelap gulita. Anak-anak di desa itu pun tidak bisa belajar dengan nyaman pada saat malam dan beberapa aktivitas di malam hari pun jika bahan bakar gensetnya habis pun akan terganggu. 

Seorang ibu rumah tangga setempat, bernama Marni mengungkapkan, sulit baginya untuk beraktivitas di malam hari karena keterbatasan bahan bakar untuk menyalakan genset. Marni yang sehari-harinya membuka usaha warung makan itu mengeluhkan biaya yang sangat mahal jika ingin mendapat aliran listrik. Sampai suatu ketika ada seorang pemuda yang bernama Adi yang melakukan penelitian di desa tempat Marni tinggal. Karena seringnya melakukan penelitian di desa tersebut, Adi pun menjadi langganan di warung makan milik Marni. Suatu hari Marni bercerita mengenai tarif listrik yang naik yang membuatnya bekerja ekstra keras untuk berjualan, Adi si pemuda yang menjadi pelanggan Marni tertarik dengan cerita tersebut, Adi sendiri memang sedang melakukan riset mengenai Solar Panel menjadi terinspirasi untuk membantu Marni. Adi dengan dibantu Marni pun berusaha menjelaskan tentang kegunaan Solar Panel ini ke warga setempat. Namun adanya kendala dalam penggunaan Solar Panel yang Adi ceritakan yaitu biaya yang sangat mahal dan lantas warga di desa tersebut pun menolak ide Adi ini. Tapi entah mengapa Marni sangat yakin dengan penggunaan Solar Panel ini, meskipun ia tidak terlalu paham dengan cara penggunaannya namun ia merasa pasti akan besar efeknya di kemudian hari. 

Marni pun meminta penjelasan lebih jelas kepada Adi agar ia dapat meyakinkan warga di desanya. Beberapa hari kemudian, Adi menelpon Marni, ia mendapatkan kabar bahagia terdapat perusahaan yang menjual Solar Panel dengan cara cicilan bertahap. Marni mulai mengeluarkan buku dan kalkulatornya dan menghitung berapa banyak yang dibutuhkan jika para warga setuju ikut patungan membeli Solar Panel ini yang dapat digunakan secara bersama-sama. Pada akhirnya Solar Panel ini pun dapat terbeli dan terpasang di desa tersebut dan semenjak ada Solar Panel tersebut, pengeluaran warga setempat dapat berkurang. Jika dahulu satu bulan mereka mengeluarkan Rp 500.000 hanya untuk beli solar, sekarang hanya Rp 30.000 dan ini sangat menguntungkan. Uangnya bisa dialihkan untuk keperluan lain. Sejak dialirinya listrik tenaga surya, denyut ekonomi di desa tersebut mulai terlihat. Usaha kecil mulai bermunculan dan anak-anak bisa belajar dengan tenang di malam hari. Selain untung secara ekonomi, pemanfaatan energi surya ini tidak bising dan bersih. Jika menggunakan genset akan menimbulkan suara bising, sementara itu kotor, banyak oli dan minyak genset bisa tumpah dan mengotori tanah. Warga setempat juga menyadari bahwa penggunaan energi surya tidak menghasilkan polusi, berbeda dengan penggunaan genset yang menghasilkan polusi asap solar dan bensin, mengotori udara dan termasuk polusi tanah. Marni dan warga Desa G pun dapat terbantu setelah adanya Solar Panel ini dan menurut Marni, memang kesan mahalnya terasa di awal namun selanjutnya warga tak harus mengeluarkan uang banyak, jadi tinggal perawatan peralatan secara berkala. Memang sudah seharusnya Indonesia meninggalkan energi listrik dari sumber fosil yang tidak ramah lingkungan dikarenakan Indonesia memiliki banyak sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk energi listrik.

Apakah anda ingin daerah rumah anda seperti kisah diatas? Jika memang anda mulai peduli tentang dampaknya nanti, mungkin beralih ke sumber Renewable Energy bisa menjadi pilihan. Seperti REEF sebagai aplikasi financing berbasis Blockchain yang hadir untuk memberi solusi bagi terciptanya kelestarian lingkungan dengan Solar Panel yang di produksi oleh perusahaan JSKY sebagai partner. REEF berkomitmen untuk menghasilkan energi bersih dan juga menginspirasi masyarakat untuk segera beralih ke Renewable Energy serta menjaga kelestarian lingkungan. Ingin tahu lebih lanjut? Langsung saja klik www.reef.id untuk informasi selengkapnya.

Posted on

Polusi Mengancam Kita Semua

Polusi Mengancam Kita Semua

Akhir-akhir ini isu mengenai masalah polusi udara sedang ramai diperbincangkan. Tingkat polusi di kota-kota besar pun semakin mengkhawatirkan dan masuk ke dalam kategori tidak sehat. Udara pada dasarnya merupakan faktor yang paling penting dalam hidup dan kehidupan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman serta pembangunan fisik kota dan pusat-pusat industri, lalu disusul dengan berkembangnya sektor transportasi maka kualitas udara pun mengalami perubahan yang disebabkan oleh terjadinya pencemaran udara. Kita sendiri pun sebagai makhluk hidup yang sangat bergantung pada udara ikut merasakan akibat dari pencemaran atau polusi udara ini. Banyak efek buruk yang dihasilkan dari pencemaran udara ini dan jika tidak ditanggulangi maka akan mengancam kelestarian lingkungan serta kelangsungan makhluk hidup di sekitarnya. 

Dari segi kesehatan salah satunya, pencemaran udara dapat berakibat pada terganggunya kesehatan dan pertumbuhan anak-anak. Misalnya timbulnya penyakit anemia, memang di masa pertumbuhan sel-sel darah merah terus diproduksi. Namun, karena masuknya timbal akibat emisi gas karbon akan merusak sel darah merah dan jumlahnya makin lama makin berkurang. Pada akhirnya anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan bisa menderita anemia. Timbal yang masuk ke dalam tubuh juga akan merusak sel-sel darah merah yang mestinya dikirim ke otak. Akibatnya bisa terjadi gangguan pada otak dan hal yang paling dikhawatirkan, anak-anak bisa mengalami gangguan dalam kemampuan berpikir, daya tangkapnya menjadi lambat dan tingkat IQ nya menjadi rendah. Sedangkan dalam hal pertumbuhan fisik, keberadaan timbal ini akan berdampak pada beberapa gangguan seperti keterlambatan pertumbuhan dan gangguan pendengaran pada frekuensi-frekuensi tertentu. Kalian tidak mau kan ini terjadi kepada anak-anak kita di generasi mendatang? Jangan kira hal ini hanya berdampak kepada anak-anak saja, orang dewasa pun juga bisa terkena dampak buruk dari polusi ini. Timbal yang dihasilkan dapat mempengaruhi sistem reproduksi atau kesuburan. Zat ini juga dapat mengurangi jumlah dan fungsi sperma sehingga bisa menyebabkan seseorang mengalami kemandulan. Timbal juga mengganggu fungsi jantung, ginjal dan bisa menyebabkan seseorang terkena penyakit stroke serta kanker. Untuk ibu hamil pun akan menghadapi resiko yang sangat tinggi jika kadar timbal dalam darahnya mencapai di atas batas normal. Timbal ini akan menuju ke janin dan menghambat tumbuh kembang otak janin tersebut. Resiko lain yang bisa terjadi dan paling menakutkan adalah ibu tersebut bisa mengalami keguguran. 

Yang perlu kalian ketahui, zat timbal layaknya musuh dalam selimut. Pada awalnya kadar timbal yang tinggi dalam darah tidak akan menunjukkan gejala penyakit namun baru akan nampak dalam jangka panjang. Sudah banyak studi yang dilakukan tentang polusi udara yang menghasilkan zat timbal ini dan hasilnya setelah dilakukan tes sampel darah sebanyak 400 yang diambil dari anak-anak usia sekolah di Jakarta, hasilnya sekitar 35% sampel memiliki kadar timbal di atas normal yang berada di dalam darah mereka. Angka ini melebihi ambang batas kadar timbal pada tubuh anak-anak yang ditetapkan CDC (Center for Deseases Control and Prevention) yang hanya 10 mikrogram per desiliter. Dampak lain pada pencemaran udara pada berdampak juga pada lingkungan sekitar kita, polusi dapat menghambat fotosistesis pada tumbuhan sehingga mengakibatkan tumbuhan tidak bisa menghasilkan oksigen. Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara tinggi juga dapat terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit. Polusi udara ini juga dapat menyebabkan hujan asam. pH biasa air hujan adalah 5,6 karena adanya zat CO2 di atmosfer. Zat-zat yang dihasilkan dari pencemaran udara seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan dan membentuk asam serta menurunkan pH air hujan. Hujan asam ini memberikan efek-efek buruk dalam kehidupan antara lain mempengaruhi kualitas air di permukaan, bisa merusak tanaman dan bisa melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga dapat mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan. Hujan asam ini juga bersifat korosif sehingga bisa merusak material dan bangunan. Akibatnya daya tahan dari sebuah bangunan menjadi tidak tahan lama.

Untuk menanggulangi terjadinya pencemaran udara, kita sendiri dapat melakukannya melalui beberapa usaha antara lain mengganti bahan bakar kendaraan bermotor dengan bahan bakar yang tidak menghasilkan gas karbon monoksida, mengolah atau mendaur ulang limbah asap industri, melakukan penghijauan dan reboisasi atau pohon-pohon pengganti dan kita juga bisa mulai dari hal-hal sederhana seperti menghemat pemakaian listrik, karena seperti yang kita ketahui bahwa energi listrik yang kita pakai sekarang masih berasal dari pembakaran energi fosil yang dapat mengakibatkan emisi gas karbon. Selain menghemat listrik, kita juga dapat beralih ke sumber Renewable Energy, banyak sumber-sumber energi dari alam yang dapat kita manfaatkan untuk dapat menghasilkan listrik sebagai pengganti energi fosil tersebut. Salah satunya adalah energi surya dengan perantara alat bernama Solar Panel.

Solar Panel sendiri sebagai salah satu alat untuk menghasilkan Renewable Energy bisa jadi pilihan, mengingat sumber energi yang diterima oleh alat tersebut tak akan habis. Terlebih lagi untuk kita yang tinggal di Indonesia, negara kita berada di garis khatulistiwa sehingga sepanjang tahun akan terus disinari oleh matahari sehingga Solar Panel sangat potensial untuk menjadi sumber energi baru yang dipasang di rumah maupun gedung-gedung perkantoran anda. REEF sebagai aplikasi financing berbasis Blockchain dan bekerjasama dengan perusahaan JSKY sebagai produsen Solar Panel hadir sebagai solusi untuk mempermudah masyarakat yang tak ingin terus menjadi korban emisi karbon di masa depan. Dengan mengubah gaya hidup dan beralih ke Solar Panel, anda minimal sudah berkontribusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Ingin tahu lebih banyak tentang REEF langsung saja klik https://www.reef.id untuk informasi selengkapnya. 

Posted on

Perubahan Iklim Ikut Merubah Hidupku

Perubahan Iklim Ikut Merubah Hidupku

Ketika ku bangun dari tidur ku yang lelap, aku langsung membuka jendela dengan niat untuk menikmati udara pagi ini. Tetapi bukan indahnya pagi yang ku lihat, namun yang ku lihat hanya kabut yang menyelimuti gedung-gedung di sekitar rumah ku itu dan matahari pagi yang memancarkan cahayanya yang berkilau dan menerpa jendela kamar ku nampak kurang terang sinarnya akibat tertutup kabut yang menyelimutinya. Aku pun langsung pergi ke halaman lalu duduk dibawah pohon cemara yang sudah tua. Di sekelilingku tampak bunga-bunga kecil yang tumbuh asri dan ditemani oleh beraneka dedaunan kering yang terbaring dengan lekukan tak beraturan. Aku mulai menyapu daun-daun tersebut agar halaman ku terlihat bersih dari sampah daun tersebut.

Setelah aktivitas menyapu itu, lalu mataku melihat lebih jauh ke sekeliling wilayah rumah ku, banyak perubahan yang terjadi setelah 3 tahun aku tinggal di daerah ini. Yang kulihat sekarang, tempat-tempat di sekitar ku sudah sangat jauh berbeda. Tadinya sekeliling rumah ku dan tetangga ku masih banyak lahan-lahan yang ditumbuhi pepohonan yang rimbun pada saat awal aku pindah kesini, namun sekarang semuanya berganti dengan beberapa gedung perkantoran dan membuat daerah rumah ku menjadi pemukiman padat. Karena banyak gedung-gedung yang dibangun di sekitar rumah ku, hiruk pikuk kendaraan pun ikut jadi ikut bertambah dan kendaran-kendaraan yang tiada hentinya melaju di jalan pun meninggalkan kepulan-kepulan asap yang dimana menghasilkan gas karbondioksida dan membuat polusi udara. Belum lagi ditambah bisingnya suara-suara dari knalpot kendaraan bermotor yang membuat telinga ku sakit. Aku pun melihat sekeliling, ternyata daerah rumah tempat ku kini berada hanyalah sebuah komplek diantara gedung-gedung pencakar langit. Aku pun mencoba menghela nafas panjang, wangi bunga-bunga di halaman rumah ku yang tadinya enak dirasakan oleh hidung kini berganti dengan aroma yang tidak enak dan sungguh menyesakkan dada. Aku lalu mencoba pergi dari rumah ku dan berjalan langkah demi langkah menyusuri trotoar dan berharap dapat menghirup udara pagi yang segar, tetapi semakin jauh aku berjalan, malah semakin tidak enak rasanya dan membuat sesak dada ku.

“Akh… Polusi.” Aku bergumam dengan kesal.

Tepat di tepi trotoar aku berdiri, ku lihat banyak kendaraan yang berlalu lalang dan silih berganti sehingga membuat kemacetan di daerah tersebut. Aku mencoba bergegas dari tempat itu, tetapi beberapa meter aku berjalan, ku lihat lagi kendaraan dan masih saja terjadi kemacetan. Kenapa kemacetan selalu jadi permasalahan? Apakah tidak ada penanganannya? Mungkin itu hanya pertanyaan standar. Semakin padatnya gedung-gedung perkantoran di daerah ku, eksploitasi lahan untuk pembangunan gedung-gedung semakin gencar dilakukan pihak-pihak industri. Lalu dengan banyaknya gedung-gedung perkantoran, semakin banyaknya juga orang yang berlalu lalang ke tempat itu dan banyak juga yang menggunakan kendaraan bermotor. Solusi akhir dari kemacetan ini adalah menumpuknya kendaraan dan akibatnya menimbulkan polusi udara.

Aku pun mulai berpikir keras. Mungkin industri-industri seperti ini memang tidak mengganti dengan hal yang lebih baik, tapi mereka menggantinya dengan pagar-pagar beton. Mereka pun tidak menyadari bahwa tumbuh-tumbuhan dan bumi kita sedang menangis, meratapi polusi-polusi yang datang untuk membunuh mereka. Hal-hal seperti bencana alam yang datang adalah bukti kemurkaan mereka, dan tentunya akan merugikan kita juga. Ingatkah beberapa tahun silam, ketika kampanye perubahan iklim sedang digembar-gemborkan? Kita baru bertindak ketika pemborosan energi telah terjadi, sebelumnya kita seakan acuh pada lingkungan kita sendiri dan akibat pemborosan energi serta asap dari kendaraan bermotor tersebut sekaligus memberikan efek rumah kaca pada langit akibat gas pembuangan yang mengapung di atmosfir serta memberikan efek buruk terhadap sejuta umat manusia di dunia. 

Pentingnya menjaga lingkungan harus diterapkan sejak dini dan kita semua harus paham betul tentang dampak yang akan terjadi jika kita tidak menjaga lingkungan dengan benar. Janganlah menjadi manusia yang egois, alam ini bukan hanya milik generasi kita, masih ada generasi-generasi selanjutnya yang ingin merasakan kesejukan pepohonan serta keasrian lingkungan. Janganlah ditebang sembarangan, masih akan ada generasi yang ingin merasakan udara pagi yang sejuk dan teduh serta jangan pula mencemari udara dengan asap kendaraan. Saat ini pun banyak Renewable Energy yang bisa menjadi pilihan terbaik dalam menghadapi situasi seperti ini. Banyak yang kita bisa manfaatkan dari alam sekitar kita sebagai sumber energi mulai dari matahari, angin, panas bumi dan bahkan air. Tanpa kita sadari, matahari memberikan banyak manfaat dalam kehidupan dan salah satunya bisa sebagai sumber energi yang ramah lingkungan dan tanpa menghasilkan emisi gas karbon yang dapat mencemari udara. Sinar matahari yang kita dapatkan dapat diolah menjadi energi dengan perantara alat seperti Solar Panel.

Solar Panel sendiri sebagai salah satu alat untuk menghasilkan Renewable Energy bisa jadi pilihan, mengingat sumber energi yang diterima oleh alat tersebut tak akan habis. Terlebih lagi untuk kita yang tinggal di Indonesia, negara kita berada di garis khatulistiwa sehingga sepanjang tahun akan terus disinari oleh matahari sehingga Solar Panel sangat potensial untuk menjadi sumber energi baru yang dipasang di rumah maupun gedung-gedung perkantoran anda. REEF sebagai aplikasi financing berbasis Blockchain hadir sebagai solusi untuk mempermudah masyarakat yang tak ingin terus menjadi korban emisi karbon di masa depan. Bekerjasama dengan perusahaan JSKY sebagai produsen Solar Panel, REEF mengajak kita untuk mengubah gaya hidup dan beralih ke Solar Panel. Jika bisa dilakukan, anda minimal sudah berkontribusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Ingin tahu lebih banyak tentang REEF langsung saja klik https://www.reef.id untuk informasi selengkapnya.

Posted on

Upaya Menanggulangi Masalah Polusi Udara

Upaya Menanggulangi Masalah Polusi Udara

Apakah kalian tahu bahwa pencemaran lingkungan merupakan masalah utama yang memiliki potensi untuk mengakibatkan kepunahan umat manusia di bumi jika tidak segera diatasi? Dari berbagai jenis polusi, polusi udara adalah salah satu yang membutuhkan perhatian segera. Permasalahan polusi udara serta pemanasan global yang mengakibatkan peningkatan jumlah gas rumah kaca di udara adalah masalah yang paling parah dihadapi manusia pada saat ini. Untuk itu, diperlukan adanya sebuah perubahan besar pada teknologi dan sosial yang didukung oleh aspek  keuangan dan politik yang dilakukan oleh suatu Industri. Untuk saat ini bisa dibilang masih sedikit sangat sedikit industri yang menggunakan teknologi ramah lingkungan, karena para pengusaha industry tersebut lebih cenderung fokus dalam mencari keuntungan dibandingkan untuk menyelamatkan lingkungan yang dimana itu memerlukan biaya yang sangat besar. Tetapi pada saat ini dengan adanya inovasi pada teknologi ramah lingkungan yang mampu menghemat biaya maka penyelamatan lingkungan pun dapat dilakukan sejalan dengan tujuan perusahaan dalam mencari keuntungan, dan nantinya akan mampu mengatasi kontaminasi dan pencemaran di lingkungan industri. 

Polusi udara di Jakarta jadi pembahasan yang hangat belakangan ini. Salah satu situs yang menyediakan angka pengukuran kualitas udara yaitu AirVisual menunjukkan tingkat pencemaran udara di Jakarta sebulan terakhir masuk kategori tidak sehat. Masalah polusi udara di Jakarta menjadi ramai dibahas sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan AirVisual menunjukkan air quality index (AQI) Jakarta berada pada angka 168 atau masuk kategori unhealthy. Di wilayah Indonesia sendiri khususnya Jakarta bahkan sempat menduduki ranking 1 kota paling berpolusi di dunia pada tahun 2019 ini. Saat itu, AQI Jakarta berada di angka 184 berdasarkan pengukuran dan kandungan PM 2,5 pagi itu, berdasarkan data AirVisual adalah 119.8 µg/m³. Kondisi udara Jakarta tidak juga kunjung membaik, bahkan di akhir pekan. Padahal, pada akhir pekan tidak banyak aktivitas perkantoran maupun pabrik yang artinya berbanding dengan jumlah kendaraan di ibu kota juga menurun. Saking berpolusinya udara di Jakarta kadang membuat mata kita bisa tertipu. Seringkali kita melihat kabut atau embun yang menutup dan mengaburkan pandangan pada gedung-gedung pencakar langit di ibu kota, tapi ternyata itu bukan kabut. Langit Jakarta sendiri jarang terlihat benar-benar biru dan warna langit lebih sering kelabu padahal sedang tak mendung.

Pemprov DKI Jakarta sendiri tetap mengambil langkah-langkah perbaikan demi menciptakan kualitas udara yang lebih baik untuk warganya. Mulai dari mewajibkan uji emisi, penggunaan baterai untuk mengganti genset, hingga membagikan tanaman kepada warga dan Pemprov DKI Jakarta juga terus mengkampanyekan agar warganya bisa beralih ke moda transportasi umum yang bertujuan untuk mengurangi jumlah kendaraan yang berada di jalanan sehingga bisa menekan tingkat polusi udara. Ada sejumlah hal yang menjadi penyumbang polutan di Jakarta. Yang pertama dan paling utama adalah kendaraan bermotor, seiring dengan meningkatnya kepadatan penduduk Jakarta maka jumlah kendaraan pun semakin meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah tersebut kebanyakan di dominasi oleh sepeda motor lalu disusul mobil penumpang, mobil beban, bus serta kendaraan lainnya. Jumlah ini pun belum termasuk lagi dengan kendaraan-kendaraan dari wilayah sekitar Jakarta yang masuk ke wilayah DKI Jakarta setiap harinya. 

Banyaknya kendaraan pribadi ini sebenarnya tak terlepas dari dua faktor, yaitu kelakuan manusianya dan yang kedua itu tata kotanya. Manusia Jakarta zaman sekarang, lebih suka hidup dengan simpel. Permasalahannya hal itu berbanding terbalik dengan jumlah transportasi umum di Jakarta yang tidak mendukung keinginan hidup seperti itu. Permasalahan kedua yaitu tentang tata kota. Yang menjadi faktor membuat jumlah kendaraan pribadi di Jakarta makin mengalami peningkatan secara pesat adalah karena Jakarta tidak dibangun dengan perencanaan yang jelas, hampir setiap tempat ada kantor, wilayah yang khusus untuk tempat tinggal juga tak jelas. Jakarta sendiri dinilai juga sangat padat hingga banyak jalan-jalan maupun gang-gang kecil yang tak bisa diakses oleh transportasi umum. Permasalahan inilah yang memicu sulitnya menata sistem transportasi di ibu kota.

Belum lagi di Jakarta masih banyak sekarang industri-industri besar yang masih menggunakan pembakaran minyak dan menyebabkan emisi gas rumah kaca, jumlah penggunaannya pun harus dibatasi dan jika mungkin harus dihilangkan sama sekali. Untuk mengatasi terjadinya polusi, limbah, maka kini diperlukan gerakan ramah lingkungan bagi industri di Indonesia khususnya di Jakarta untuk menunjukkan tanggung jawabnya kepada masyarakat. Pemerintah pun harus memberikan aturan yang tegas terhadap kewajiban industri untuk menjaga kelestarian lingkungan dan sebenarnya pemerintah sendiri juga telah melakukan berbagai cara dalam mengatasi dampak dari polusi udara yang ada di Jakarta yaitu dengan cara melakukan tindakan penghijauan terutama di daerah-daerah industri dan perkotaan. Karena dapat mengurangi polusi-polusi yang disebabkan alat transportasi atau semacamnya dengan cara diserap oleh tumbuhan-tumbuhan dari hasil penghijauan tersebut. Lalu dengan cara mengedukasi warganya untuk segera beralih ke Renewable Energy, dengan menggunakan Renewable Energy ini kita dapat meminimalisir dampak dari emisi karbon yang bisa menyebabkan polusi udara terlebih di kota-kota besar seperti Jakarta ini masih banyak yang menggunakan energi yang memicu emisi karbon.

Solar Panel sendiri sebagai salah satu alat untuk menghasilkan Renewable Energy bisa jadi pilihan, mengingat sumber energi yang diterima oleh alat tersebut tak akan habis. Terlebih lagi negara Indonesia berada di garis khatulistiwa sehingga sepanjang tahun akan terus disinari oleh matahari sehingga Solar Panel sangat potensial untuk menjadi sumber energi baru yang dipasang di rumah maupun gedung-gedung perkantoran anda. REEF aplikasi financing berbasis Blockchain hadir sebagai solusi untuk mempermudah masyarakat yang tak ingin terus menjadi korban emisi karbon di masa depan, bekerjasama dengan perusahaan JSKY sebagai produsen Solar Panel. Dengan mengubah gaya hidup dan beralih ke Solar Panel, anda minimal sudah berkontribusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Ingin tahu lebih banyak tentang REEF langsung saja klik https://www.reef.id untuk informasi selengkapnya. 

Posted on

Solusi Untuk Kehidupan Yang Lebih Baik

Solusi untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Hampir setiap hari, dari mulai hari selasa sampai hari minggu. Seorang pria bernama Bimo menjalankan usaha warung kopi kekinian miliknya, dengan dibantu beberapa karyawannya ia setiap siang selalu bergegas untuk membuka warung kopi kekinian miliknya tersebut. Bimo sendiri selalu bersemangat ketika waktu weekend tiba, karena menurutnya banyak sekali anak-anak muda yang datang ke warung kopinya untuk sekedar berkumpul dengan teman-temannya sekaligus bersenda gurau disana. Ketika hari semakin sore, semakin banyak sekali pengunjung yang datang ke warung kopi miliknya untuk sekedar mengisi perut maupun menikmati kopi hitam dan kopi susu disana. Selain tempatnya nyaman, harganya pun juga terjangkau di kalangan anak muda dan itu lah yang membuat warung kopi milik Bimo ini laris manis untuk tempat berkumpul dengan teman-teman. 

Pilihan menunya pun sangat beragam seperti mie instan, pizza mie, roti bakar, pisang bakar menjadi menu andalan di warung kopinya, belum lagi dari segi minuman ada kopi hitam, kopi susu, es susu segar dan bahkan es soda gembira yang sangat cocok disajikan dengan cemilan-cemilan yang ada di warung kopi miliknya. Walaupun bisa dibilang menu tersebut merupakan menu standar warung kopi pada umumnya, tapi yang membuat warung kopi Bimo menjadi warung kopi kekinian adalah ditambahkannya topping-topping menarik ke dalam menunya sehingga menjadi lebih menggugah selera makan. Topping-topping tersebut berupa sosis, bakso, keju bahkan daging cincang dan meskipun adanya topping-topping tersebut, harga masih tetap bisa dijangkau. Ditambah lagi dengan interior warung kopinya yang nyaman dan enak dipandang serta jauh dari kesan jorok, hal itu membuat orang-orang terkadang rela antri untuk bergantian makan maupun nongkrong di warung kopi miliknya tersebut, apalagi jika memasuki weekend. Weekend ini berjalan seperti biasanya, warung kopi milik Bimo ini selalu ramai dan tidak ada meja mau pun kursi yang kosong. Apalagi jika weekend seperti ini sering ada live music yang diisi oleh musisi jalanan di sekitar wilayah warung kopinya Bimo, dijamin makin nyaman untuk berkumpul dengan teman-teman.

Dengan senang hati, Bimo dengan dibantu 3 karyawannya langsung membuat menu-menu yang sudah dipesan pelanggan seperti mie instan, roti bakar, kopi hitam dan lain-lain. Namun saat Bimo mau membuat pesanan es susu segar dengan menggunakan blender, tiba-tiba beberapa menit kemudian tanpa adanya pemberitahuan dari PLN sebelumnya, listrik di warung kopi miliknya tiba-tiba mati total. Bimo pun kaget dan langsung meminta tolong kepada karyawannya yang lain untuk mengecek lingkungan sekitar apakah hanya warung kopinya yang mati atau tidak. Setelah di cek, karyawannya memberitahu bahwa rumah-rumah warga di sekitar warung kopinya juga mengalami hal yang sama. Gangguan listrik padam ini terjadi karena adanya gangguan dari pusat sehingga pemadaman bergilir pun tak bisa dihindari. Bimo pun beserta karyawannya hanya bisa menunggu listrik untuk kembali menyala. 

“Mohon maaf mas dan mba sekalian, kita kena pemadaman bergilir dan sekarang listriknya sedang mati. Jadi tidak bisa memesan apa-apa. Kita coba tunggu dulu sampai menyala.” Ujar Bimo beserta karyawan lainnya kepada setiap pelanggan yang baru datang dan beberapa yang masih menunggu pesanan di warung kopi miliknya. Beberapa menu di warung kopi miliknya itu rata-rata mengandalkan alat-alat bertenaga listrik seperti kompor untuk memasak, blender untuk membuat minuman serta freezer untuk mendinginkan es batu. Bimo sendiri juga tidak memiliki tenaga cadangan listrik seperti Genset untuk menyalakan listrik di warung kopi miliknya. Jadi bisa dibilang, sumber energi utama berjalannya usaha warung kopi milik Bimo ini adalah dengan menggunakan tenaga listrik.

Menjelang malam ketika Bimo dan karyawannya sudah hampir 3 jam menunggu, listrik pun tidak kunjung menyala juga dan ternyata setelah mendengar berita dari warga sekitar, PLN memberi tahu bahwa pemadaman ini memakan durasi yang agak lama. Jadinya warung kopi milik Bimo ini tidak bisa menjual menu-menu andalannya dikarenakan pemadaman listrik tersebut. Bimo pun terkejut dan hanya bisa pasrah mendengar berita ini. Hal ini tentu mengganggu seluruh operasional di warung kopi miliknya baik dari kompor, blender, freezer es bahkan kulkas pun tidak bisa menyala akibat pemadaman ini.

Setelah mendapat informasi resmi dari pihak PLN tentang pemadaman listrik ini, Bimo pun langsung segera membereskan warung kopinya dan meminta maaf kepada pelanggan-pelanggannya karena pesanan tidak dapat dibuat. Bimo pun terpaksa menutup warung kopinya dan ia pun malah merugi karena terpaksa menutup warung lebih cepat dari biasanya, apalagi memasuki weekend seperti ini yang dimana pelanggan sedang ramai-ramainya untuk singgah ke warung kopinya untuk nongkrong dan bersantai dengan teman-teman. Tentunya untuk kedepannya Bimo tidak mau hal ini terjadi lagi kepada usaha warung kopi miliknya, karena hal ini sangat berdampak besar pada pemasukan Bimo sebagai perintis usaha kecil dan menengah. Seperti cerita diatas, kita pun sebagai orang yang hidup di negara tropis dan memiliki usaha yang sangat bergantung dengan tenaga listrik, sangat ideal tentunya untuk memiliki Solar Panel sebagai alternatif tenaga listrik guna menghindari kerugian-kerugian yang bisa terjadi akibat pemadaman bergilir. 

Oleh karena itu, REEF sebuah aplikasi financing berbasis Blockchain adalah solusi anda untuk mempermudah aliran listrik di kehidupan anda di zaman modern seperti ini. Salah satu cara untuk memanfaatkan panasnya matahari yaitu lewat penyediaan Solar Panel yang di produksi oleh perusahaan JSKY yang bekerjasama dengan REEF. Dengan mengubah gaya hidup anda dan beralih ke Solar Panel, anda minimal sudah turut membantu dalam menghemat listrik serta membantu kelestarian lingkungan. Yuk mulai beralih dan pasang Solar Panel ini melalui REEF! Ingin tahu lebih banyak, langsung saja klik www.reef.id untuk informasi selengkapnya.

Posted on

Sebuah Inspirasi Dari Cahaya Matahari

Sebuah Inspirasi dari Cahaya Matahari

Tidak pernah terpikir sebelumnya oleh Bu Ratna, wanita berusia 40 tahun tersebut bahwa kepindahannya ke Desa A beberapa tahun silam akan membawanya kepada hari-hari penuh kegelapan. Demi mengikuti orang tuanya yang merantau, Bu Ratna yang pada saat itu baru lulus Sekolah Menengah Pertama, harus meninggalkan Kota B demi mendapat kehidupan yang lebih baik. Namun ternyata, lingkungan tempat tinggal barunya tersebut sangat terpencil dan masih belum terjangkau oleh aliran listrik dari kota, meski banyak sumber daya alam yang melimpah di wilayah tersebut. Bertahun-tahun lamanya, Bu Ratna mengenang masa-masa SMA nya sangat kesulitan untuk belajar terutama di malam hari. Karena listrik hanya mengaliri desa nya pada saat siang hari saja untuk menjalankan roda usaha di wilayah Desa A tersebut. Bu Ratna pun juga jarang sekali bisa mendapat hiburan dari televisi, radio maupun handphone pada saat itu.

Pada malam hari karena tidak di aliri listrik, warga Desa A menggunakan lampu berbahan bakar minyak tanah sebagai sumber penerangan, namun tak jarang juga sebagian warga terkadang harus menarik kabel dari desa lain untuk mengalirkan listrik dengan jarak hingga berkilo-kilometer untuk memenuhi kebutuhannya di malam hari. Maklum Desa A ini termasuk dalam wilayah pelosok dan untuk menjangkau wilayah ini harus menggunakan jalan darat yang berbatu karena jalan akses di Desa A belum di aspal dan jaraknya agak lumayan jauh dari kota. Warga Desa A sebenarnya sempat meminta bantuan kepada pemerintah. Namun, karena faktor jumlah penduduknya yang sedikit serta sulitnya akses membuat pemerintah mengalami kesulitan dalam menjangkau wilayah tersebut. Berbagai cara pun di tempuh demi mendapatkan pasokan listrik untuk Desa A, namun berujung sia-sia karena kembali lagi pada sulitnya akses untuk memasuki wilayah tersebut. Warga-warga Desa A pun demi memenuhi kebutuhannya sehari-hari mereka bekerja dengan bercocok tanam maupun berternak ayam atau sapi dan setelah menuai hasil, mereka akan menjualnya ke kota terdekat dan mendapatkan hasil yang lumayan untuk memenuhi kebutuhan warga Desa A tersebut.

Secercah harapan pun muncul ketika beberapa mahasiswa dari Kota B melakukan KKN di Desa A, mereka sedang meneliti tentang efek sinar matahari untuk dijadikan sumber listrik yang berguna untuk kehidupan. Setelah melalu berbagai kajian dan penelitian, para mahasiswa tersebut menghadirkan energi bertenaga surya di sana. Teknologi yang dikembangkan para mahasiswa KKN ini berbentuk Solar Panel yang diharapkan bisa memberikan kesejahteraan bagi warga Desa A yang selama ini tertinggal. Dengan modal dari para mahasiswa serta beberapa dana hibah dari warga Desa A, mereka melakukan pembangunan instalasi beberapa pasang Solar Panel sebagai bahan uji coba di Desa A. Tujuannya agar masyarakat di Desa A tersebut dan sekitarnya bisa mendapatkan energi untuk penerangan kehidupan mereka. Pada awalnya para warga Desa A merasa bingung dengan teknologi Solar Panel ini, namun setelah diberi arahan dan edukasi yang cukup oleh para mahasiswa KKN ini para warga menjadi lebih mengerti tentang pemanfaatan energi tenaga surya ini untuk kehidupan mereka. Mereka juga di edukasi tentang energi listrik yang sekarang mereka pakai masih menggunakan bahan bakar fosil yang nantinya akan habis dan juga tentang dampak buruk akibat masih menggunakan bahan bakar fosil tersebut.

Kini pada malam hari, di beberapa wilayah Desa A sudah teraliri listrik melalui Solar Panel tersebut. Kapasitas pembangkit listrik yang diserap melalui energi surya tersebut juga mampu menerangi masjid, sekolah serta rumah-rumah warga yang ada di Desa A. Bu Ratna pun mengatakan jika dulu ia tidak bisa melakukan banyak hal di malam hari dan menjalani hidup dengan keadaan yang begitu-gitu saja, tetapi kini setelah ada pasokan listrik melalui energi surya ini ia beserta warga desa nya bisa menjadi lebih maju. Kehidupan sehari-hari pun menjadi lebih mudah karena mereka bisa mulai menggunakan alat elektronik terutama pada malam hari. Untuk masak nasi misalnya, Bu Ratna sekarang bisa menggunakan rice cooker untuk memasak nasi di malam hari untuk makan malam keluarganya dan yang terpenting saat ini anak-anaknya bisa belajar dengan nyaman di malam hari.

Bu Ratna pun mengatakan bahwa perkembangan di Desa A menjadi lebih signifikan setelah teraliri listrik terutama pada malam hari. Setelah Desa A semakin berkembang, masyarakat lebih giat dalam bekerja sehingga bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Warga Desa A pun membuat sebuah koperasi untuk meningkatkan produk lokal dari desa mereka. Mereka mengolah hasil bumi serta ternak mereka untuk dijual ke kota dan mereka juga mengolahnya menjadi produk makanan lain yang tentunya meningkatkan nilai jual mereka. Hal ini baru bisa mereka lakukan setelah adanya pasokan listrik dari Solar Panel. Dulu, warga Desa A harus langsung menjual hasil bumi mereka ke kota karena mereka tidak ada listrik untuk menjalankan mesin pendingin pada malam hari. Daripada busuk, mereka lebih memilih untuk menjual langsung ke kota.

Anda tidak ingin seperti Bu Ratna dan warga Desa A yang harus hidup dalam kegelapan akibat pasokan listrik yang tidak merata? Memang pasokan listrik dari bahan bakar fosil suatu saat akan habis dan jika memang anda mulai peduli tentang dampaknya nanti, mungkin beralih ke sumber Renewable Energy bisa menjadi pilihan. Seperti REEF sebagai aplikasi financing berbasis Blockchain yang hadir untuk memberi solusi bagi terciptanya lingkungan yang hemat energi dan menjaga kelestarian lingkungan dengan Solar Panel yang di produksi oleh perusahaan JSKY sebagai partner. REEF berkomitmen untuk menghasilkan energi bersih dan juga menginspirasi masyarakat untuk segera beralih ke Renewable Energy untuk menjaga kelestarian lingkungan. Ingin tahu lebih lanjut? Langsung saja klik www.reef.id untuk informasi selengkapnya.

Posted on

Sebuah Hikmah Dari Pemadaman Listrik

Sebuah Hikmah dari Pemadaman Listrik

Pemadaman listrik bergilir mungkin sudah menjadi hal yang lazim di daerah pedesaan, karena penyebaran pasokan listrik yang belum merata maka di setiap daerah atau desa pasti dijatah dalam hal pasokan aliran listrik. Bagaimana jika hal ini terjadi di kota-kota besar? Terutama kota yang padat penduduk maupun industri-industri besar, tentu akan sangat merepotkan bukan dan juga akan menghambat pergerakan roda ekonomi di kota tersebut akibat ketiadaan aliran listrik untuk menggunakan alat-alat produksi. Di dalam dunia modern seperti saat ini, hampir segalanya mulai dari sistem keuangan hingga jaringan komunikasi kita amat sangat bergantung pada listrik. Infrastruktur vital lainnya seperti suplai air dan sistem pembuangan juga bergantung pada listrik untuk menyalakan mesin pompa agar semuanya terus mengalir. Tanpa listrik, mesin pompa minyak di SPBU akan berhenti bekerja, petunjuk jalan dan lampu lalu lintas pun akan mati. Jaringan transportasi akan mogok dan ‘Rantai makanan’ kita yang kompleks pun akan berantakan tanpa komputer yang dapat mengkoordinir di mana bahan makanan akan disimpan atau bahan bakar untuk mendistribusikannya dan bahkan lemari es untuk mengawetkannya. 

Begitu pula dengan kisah para pengusaha kecil yang proses produksinya mengandalkan tenaga listrik yang terpaksa berhenti beraktivitas. Seperti Pak Hari contohnya, Pak Hari sendiri merupakan seorang pedagang frozen food rumahan, Bersama istrinya ia membuat berbagai macam olahan makanan dari daging ayam dan ikan seperti nugget, sosis, bakso dan lain-lain. Keuntungan yang diraih pun tak sedikit dari hasil penjualannya, dan semakin hari semakin banyak pelanggan yang membeli makanan olahan ini ke Pak Hari. Dalam kesehariannya, Pak Hari menggunakan berbagai alat-alat bertenaga listrik untuk mengolah daging ayam dan ikan tersebut menjadi makanan olahan. Pak Hari pun sangat membutuhkan aliran listrik setiap harinya demi kelancaran usahanya. Namun akibat pemadaman listrik selama beberapa hari belakangan menjadi mimpi buruk bagi Pak Hari.

Pak Hari tidak menyangka karena daerahnya mengalami pemadaman listrik sejak semalam. Hal ini tentu merugikan untuk usahanya, belum lagi jika listrik padam ditengah-tengah perkerjaannya yang sedang menggiling daging untuk dijadikan makanan olahan. Bukan hanya merugikan, namun juga benar-benar membuat kesal. Jika listrik mati, seluruh alat-alat untuk menggiling dan juga lemari es untuk menyimpan makanan tersebut menjadi tidak bisa dipakai. Pak Hari pun menyadari bahwa ini mulai menjadi masalah serius. Pemadaman listrik yang sering terjadi melumpuhkan banyak aktivitas dan merugikan usahanya dan bukan hanya dia saja yang mengalaminya namun juga tetangga sekitar rumahnya ikut mengalami imbasnya. Terlebih orang-orang yang bekerja dengan mengandalkan listrik. Pak Hari berpikir keras untuk memikirkan solusi alternatif jika listrik mereka tiba-tiba padam. Setelah berpikir panjang, Pak Hari pun mulai kepikiran untuk memasang sebuah Solar Panel. Karena Pak Hari tahu bahwa di daerahnya jika siang hari, matahari bersinar amat terik sehingga menjadi peluang dalam pemasangan Solar Panel tersebut.

Ia pun juga berpikir bahwa memasang Solar Panel ini juga merupakan sebuah bentuk investasi jangka panjang dan Pak Hari pun bisa menggunakannya setiap hari, jadi bayar listrik perbulannya bisa lebih murah. Berbekal informasi yang ia dapat, Pak Hari mendapatkan informasi bahwa dalam memasang Solar Panel harus merogoh kocek yang tidak sedikit, sekitar belasan juta rupiah. Pada awalnya, Pak Hari berencana untuk memasang Solar Panel tersebut hanya untuk rumahnya saja. Namun, tiba-tiba ia kepikiran untuk mengajak para tetangganya untuk memasang sejumlah Solar Panel di area rumahnya masing-masing. Pak Hari pun mulai mendatangi para tetangganya terlebih mereka yang memiliki usaha dan yang sangat dirugikan ketika terjadi pemadaman listrik. Pak Hari juga mengajak mereka untuk memasang Solar Panel sekaligus ber investasi untuk masa depan. Walaupun harga Solar Panel ini lumayan mahal, namun efek serta keuntungannya dapat terlihat sekitar 8 tahun mendatang tidak cuma untuk penghematan serta solusi alternatif tapi bisa juga untuk melestarikan lingkungan. Setelah mendapat penjelasan dari Pak Hari, maka para tetangganya pun setuju untuk memasang Solar Panel di lingkungan sekitar mereka.

Setelah Solar Panel tersebut dipasang, hal ini sangat merubah hidup Pak Hari serta tetangganya. Dimulai dari mereka menghemat daya listrik yang mereka gunakan dari PLN sehingga bisa mengurangi biaya penggunaan listrik setiap bulannya. Pak Hari dan tetangga-tetangga yang telah memasang Solar Panel tersebut akan mendapatkan keuntungan yang lebih karena tanpa mereka rasakan, mereka sudah memulai investasi dengan Renewable Energy tersebut. Pak Hari dan para tetangganya yang memiliki usaha pun juga sudah tidak takut lagi dengan adanya pemadaman listrik dari PLN yang akan membuat usahanya merugi. Aktivitas yang mereka lakukan jauh lebih lancar dan yang terpenting keuntungan selalu di dapat setiap harinya. Tidak ada lagi ke khawatiran karena langkah yang Pak Hari buat menjadi langkah awal dalam penghematan energi sekaligus menyelamatkan lingkungan.

Berdasarkan cerita diatas, apakah anda ingin seperti Pak Hari yang harus menanggung kerugian karena bisnisnya tidak berjalan akibat pemadaman listrik? Jika memang anda tidak ingin, mungkin beralih ke sumber Renewable Energy bisa menjadi pilihan. Seperti REEF sebagai aplikasi financing berbasis Blockchain yang hadir untuk memberi solusi bagi terciptanya lingkungan yang hemat energi dan menjaga kelestarian lingkungan dengan Solar Panel yang diproduksi oleh perusahaan JSKY sebagai partner. REEF berkomitmen untuk menghasilkan energi bersih dan juga menginspirasi masyarakat untuk segera beralih ke Renewable Energy serta menjaga kelestarian lingkungan. Ingin tahu lebih lanjut? Langsung saja klik www.reef.id untuk informasi selengkapnya.

Posted on

Mulailah Memanfaatkan Energi Yang Ada Di Sekitar Kita

Mulailah Memanfaatkan Energi yang Ada di Sekitar Kita

Seperti yang telah kita ketahui bahwa sumber energi dari matahari sangat bermanfaat dalam kehidupan kita sehari-hari, pada dasarnya setiap hari matahari menyinari bumi dan menyediakan sinar yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk melakukan fotosintesis hingga menghasilkan oksigen untuk menjaga temperatur bumi tetap stabil hingga bumi menjadi tidak beku. Energi matahari telah dimanfaatkan di banyak belahan dunia dan jika di eksplotasi dengan tepat, energi ini berpotensi mampu menyediakan kebutuhan konsumsi energi dunia saat ini dalam jangka waktu yang lebih lama. Seiring perkembangan zaman, pertumbuhan umat manusia dimuka bumi ini semakin meningkat dan mempunyai dampak yang luas. Salah satu dari sekian banyak dampak yang saat ini menjadi sorotan adalah kebutuhan akan energi. Kebutuhan akan energi saat ini sudah tidak bisa ditawar tawar lagi karena sudah menjadi bagian dari suatu fase kehidupan. Apapun aktivitas manusia tidak akan terlepas dari yang namanya energi baik itu energi minyak, energi listrik dan sebagainya.

Penggunaan akan energi pada saat ini telah mencapai suatu titik kondisi yang mengkhawatirkan, betapa tidak energi yang saat ini paling banyak digunakan berupa minyak bumi, batu bara dan gas alam dari pada sumber energi lain. Energi listrik yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari pun sebagian besar menggunakan bahan bakar minyak dan batu bara dalam memproduksi listriknya. Walaupun sekarang penggunaan pembangkit listrik tanpa menggunakan bahan bakar fosil sudah mulai bermunculan namun jumlahnya masih sangat sedikit untuk menyuplai kebutuhan umat manusia di dunia. Diperkirakan cadangan sumber energi yang berasal dari fosil ini hanya akan mampu bertahan kurang dari 50 tahun lagi untuk bahan bakar minyak dan 100 tahun lagi untuk bahan bakar batu bara, ini dikarenakan bahan bakar minyak, gas alam serta batu bara merupakan sumber energi yang akan habis setelah dipakai dan tidak bisa di daur ulang. Seiring dengan hal tersebut maka lambat laun harga bahan bakar ini juga akan semakin meningkat nantinya mengingat adanya keterbatasan dari produk bahan bakar tersebut. Dengan menipisnya cadangan sumber energi yang berasal dari fosil ini, dari kedua bahan bakar mempunyai permasalahan lainnya. Kedua bahan ini bisa dibilang menjadi sumber dari penyumbang gas karbon terbesar di dunia yang telah mengakibatkan terjadinya perubahan iklim akibat dari emisi gas karbon yang dilepaskan ke udara serta membentuk efek rumah kaca sehingga berakibat terciptanya suatu keadaan yang sekarang kita kenal dengan sebutan pemanasan global.

Dalam pemanfaatannya, energi matahari seringkali dimanfaatkan dalam berbagai aspek dalam kehidupan kita seperti contohnya sinar matahari dibutuhkan dalam kegiatan pengeringan bahan makanan secara alami, bisa membantu dalam kegiatan pertanian, membantu dalam aktivitas rumah tangga seperti pengeringan baju secara alami dibawah terik matahari, hingga menjadi sumber energi baru terbarukan yang dapat dikonversikan menjadi tenaga listrik menggunakan alat bernama Solar Panel yang dapat bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan akan tenaga listrik. Tanpa kita sadari sebelumnya, sebenarnya pemanfaatan energi matahari menjadi tenaga listrik sudah kita rasakan sejak dulu, seperti contohnya pada saat sekolah dulu kita pasti sering menggunakan kalkulator atau kamus bahasa inggris elektronik. Kedua alat tersebut tanpa kita sadari memiliki komponen sel surya, jadi ketika baterai kalkulator habis kita bisa meletakan kalkulator atau kamus bahasa inggris elektronik kita di bawah sinar matahari dan dalam beberapa waktu ke depan, kita pun masih bisa menggunakan kalkulator atau kamus bahasa Inggirs elektronik tersebut.

Seperti cerita Jodi yang telah melakukan perombakan dalam penggunaan listrik di rumah pribadinya yang berada di salah satu kota besar di Indonesia. Hal yang pertama ia lakukan adalah melakukan pemasangan Solar Panel sebagai sumber utama listrik di rumahnya. Jodi menjelaskan bahwa Solar Panel tersebut saat ini sudah terpasang di rumahnya dan dengan Solar Panel tersebut akan mampu menghasilkan tenaga listrik ber kapasitas sekitar 3.000 watt. Kapasitas listrik tersebut dinilai Jodi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik di rumahnya. Meski begitu, Jodi mengaku tidak akan memutuskan aliran listrik prabayar yang ada di rumahnya. Hal itu dilakukannya hanya sebagai cadangan jika suatu saat rumahnya membutuhkan tambahan daya listrik dan sebagai sumber cadangan listrik apabila terjadi pemutusan oleh PLN. Jodi sendiri pun berharap apa yang ia lakukan tersebut kedepannya dapat dicontoh dan diterapkan oleh seluruh masyarakat di Indonesia guna beralih ke Renewable Energy. Perlahan tapi pasti sumber energi matahari ini akan dirasakan manfaatnya jika sumber-sumber energi dari fosil telah habis atau langka.

Dari cerita diatas, memungkinkannya sinar matahari dijadikan sebagai energi alternatif melalui perantara Solar Panel ini tentu menjadi pilihan terbaik dalam mencegah pemanasan global, mengingat sumber energi yang diterima oleh alat tersebut tak akan habis. Terlebih lagi banyak wilayah yang sepanjang tahun terus disinari oleh matahari sehingga Solar Panel sangat potensial untuk menjadi sumber energi baru yang dipasang sebagai alat penghasil sumber Renewable Energy. Untuk itu, REEF sebagai aplikasi financing berbasis Blockchain yang bekerjasama dengan perusahaan JSKY sebagai produsen Solar Panel hadir sebagai solusi untuk mempermudah masyarakat yang tak ingin terus menjadi korban emisi karbon di masa depan. Dengan mengubah gaya hidup dan beralih ke Solar Panel, anda minimal sudah berkontribusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Yuk, kita mulai manfaatkan energi yang ada di sekitar kita demi kelestarian lingkungan serta kelangsungan hidup kita di masa depan. Ingin tahu lebih banyak tentang REEF langsung saja klik https://www.reef.id untuk informasi selengkapnya. 

Posted on

Membuat Udara Berkualitas, Tidak Lagi Terbatas

Membuat Udara Berkualitas Tidak Lagi Terbatas

Belakangan ini pola gaya hidup sehat di dalam masyarakat semakin sering dikembangkan. Untuk menciptakan generasi penerus yang sehat serta peduli lingkungan, macam-macam aktivitas bisa dilakukan dan sering juga kita jumpai beberapa kampanye yang menyuarakan tentang kelestarian lingkungan. Semua aktivitas ini berakar kepada satu masalah yang akhir-akhir ini menjadi topik hangat untuk diperbincangkan yaitu masalah polusi udara. Masalah polusi udara dan pemanasan global yang terjadi akhir-akhir ini menjadi momok menakutkan bagi masyarakat dan masalah ini pun menjadi alasan yang kuat mengapa saat ini beberapa orang atau aktivis mulai gencar dalam mengkampanyekan serta mempopulerkan gaya hidup yang sehat serta peduli dalam kelestarian lingkungan. 

Memulai kesadaran untuk melestarikan lingkungan tidaklah sulit dan dapat dimulai dari hal-hal kecil. Secara perlahan kesadaran ini pun mulai mencakup berbagai lapisan baik dari kalangan muda maupun tua, meskipun belum semuanya bisa menyadari mengapa kelestarian lingkungan itu penting bagi kelangsungan umat manusia. Dalam upaya pelestarian lingkungan pun, kita tidak bisa lepas dari yang namanya energi listrik. Energi listrik memang memegang peran yang penting dalam kehidupan manusia, karena dalam penggunaannya energi listrik bisa dikategorikan sebagai penggerak roda kehidupan saat ini. Tetapi yang mungkin masyarakat sekarang belum tahu adalah, edukasi tentang energi listrik yang sekarang digunakan masih menggunakan bahan bakar dari energi fosil yang menghasilkan limbah berupa emisi karbon dan hal itu lah yang nantinya memicu terjadinya polusi udara di lingkungan kita. 

Polusi udara yang dihasilkan baik dalam penggunaan energi listrik maupun asap dari pabrik dan kendaraan bermotor itu berupa kandungan karbon dioksida, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen oksida, serta partikel SPM yang dimana zat-zat polutan tersebut bisa berdampak buruk terhadap kesehatan manusia serta lingkungan sekitarnya. Seperti misalnya, gas karbon monoksida yang dapat menyebabkan kematian bagi orang yang menghirupnya, walaupun berdampak lama namun dalam beberapa kasus telah banyak orang yang meninggal akibat tertidur dalam mobil yang menyala sambil menyalakan AC dan membiarkan kaca mobilnya tertutup rapat. Gas polutan lain seperti karbon dioksida juga merupakan salah satu penyebab terjadinya global warming sedangkan sulfur dioksida dan nitrogen oksida merupakan polutan yang menjadi penyebab terjadinya hujan asam. Masyarakat sekitar juga dapat menderita beberapa penyakit akibat pencemaran udara, dan tak bisa dipungkiri bahwa polusi udara berpotensi membahayakan kesehatan. Namun, masih banyak orang yang menyepelekan bahaya polusi udara. Beberapa penyakit yang mungkin bisa terjadi di masyarakat akibat dari polusi udara tersebut antara lain penyakit Asma, Ispa, Paru-paru basah atau yang lebih parah lagi Jantung koroner akibat keracunan polusi udara. Sangat membahayakan bukan?

Mari kita ambil dari kisah Mira, seorang mahasiswi universitas terkenal di Jakarta. Mira sendiri berasal dari keluarga yang berkecukupan dan stabil dalam hal finansial, hal itu membuat Mira bisa mendapatkan berbagai macam hal yang ia mau termasuk energi listrik untuk ia pakai di dalam rumahnya. Seringkali ditemui saat siang atau pun malam, Mira senang sekali menggunakan alat-alat yang membutuhkan energi listrik seperti AC, TV, Radio dan lain-lain. Tak jarang juga jika ingin bepergian Mira membutuhkan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya setelah ia mandi. Di rumahnya pun lebih tepatnya di ruang keluarganya, AC nya pun selalu menyala setiap hari untuk mendinginkan ruang keluarganya. Tak heran aktivitas seperti itu yang dilakukan secara terus menerus lambat laun dapat menghasilkan polusi akibat pemakaian dari alat-alat yang menggunakan energi listrik tersebut. Sifat Mira dan keluarganya yang acuh dan seakan tidak peduli dengan dampak dari pencemaran lingkungan ini jika dilihat sangat memprihatinkan jika terjadi terus menerus tanpa ada yang mengedukasi mereka tentang bahaya dari energi listrik yang masih memakai pembakaran fosil ini.

Beberapa bulan kemudian pun, Mira tiba-tiba merasa sesak nafas dan langsung berkonsultasi dengan dokter langganannya. Disana ia mengeluhkan sakit serta sesak di area pernafasannya dan dokter pun langsung tau asal muasal penyakit sesak nafas yang diderita Mira ini. Ternyata berasal dari pencemaran udara yang diakibatkan oleh polusi. Setelah ditelusuri lebih lanjut, dampak dari pemakaian alat-alat bersumber energi listrik di rumah Mira ini lah jadi penyebabnya, karena masih memakai listrik dari pembakaran fosil maka akan menghasilkan limbah berupa emisi karbon dan berbahaya bagi sistem pernafasan. Dokter pun menyarankan serta mengedukasi Mira serta keluarganya untuk tidak lagi melakukan pola hidup sepeti itu, selain pemborosan juga berbahaya untuk lingkungan sekitar. Terlebih lagi, dokter pun menyarankan ke keluarga Mira untuk segera beralih ke sumber energi listrik terbarukan, selain lebih hemat dan tentunya bisa mengurangi dampak emisi gas karbon serta lebih ramah untuk lingkungan. Mengingat lingkungan rumah Mira merupakan daerah yang sering disinari oleh matahari, maka Solar Panel bisa dipakai sebagai sumber penghasil listrik alternatif untuk rumah Mira tersebut.

Solar Panel sendiri sebagai salah satu alat untuk menghasilkan Renewable Energy bisa jadi pilihan, mengingat sumber energi yang diterima oleh alat tersebut tak akan habis. Terlebih lagi negara Indonesia berada di garis khatulistiwa sehingga sepanjang tahun akan terus disinari oleh matahari sehingga Solar Panel sangat potensial untuk menjadi sumber energi baru yang dipasang di rumah anda. REEF aplikasi financing dengan sistem Blockchain hadir sebagai solusi untuk mempermudah masyarakat yang tak ingin terus menjadi korban emisi karbon di masa depan, bekerjasama dengan perusahaan JSKY sebagai produsen Solar Panel. Dengan mengubah gaya hidup dan beralih ke Solar Panel, anda minimal sudah berkontribusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Ingin tahu lebih banyak tentang REEF dan produk-produk ramah lingkungan lainnya langsung saja klik https://www.reef.id untuk informasi selengkapnya.