Posted on

Solar Panel Memberi Seberkas Cahaya

Solar Panel Memberi Seberkas Cahaya

Negara kita sebenarnya kaya akan sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan, sumber daya alam tersebut tanpa kita sadari bisa ditemukan di sekitar kita. Salah satunya bisa kita lihat dengan berlimpahnya cahaya matahari sebagai sumber energi yang bersih, murah dan terbarukan. Namun untuk sumber energi seperti ini masih belum dimanfaatkan secara optimal. Untuk orang awam, kesan yang tercipta dari sumber energi ini adalah membutuhkan alat yang mahal, tidak efisien, masih dijangkau oleh kalangan terbatas serta rumit dalam penggunaannya. Apakah benar seperti itu? Kita bisa ambil contoh dari sebuah kisah berikut ini. Ada sebuah desa yang terletak di sebuah pedalaman di Indonesia, sebut saja Desa G. Dari pusat kota sendiri, perjalanan menuju Desa G ini memakan waktu sekitar 4 jam dan jarak dari Desa G ke desa lainnya bisa dibilang agak jauh. Pada awalnya, Desa G ini tidak pernah mendapat pasokan listrik sama sekali, untuk sumber penerangan masih mengandalkan lampu dari minyak tanah serta untuk bekerja para warganya pun masih memakai alat-alat seadanya dan berbahan bakar bensin.

Tetapi apabila malam tiba, Desa G ini pun menjadi terkadang gelap gulita karena jatah listrik yang diberikan harus dibagi ke beberapa desa lain di sekitarnya. Selama ini untuk penerangan pada malam hari mereka menggunakan minyak tanah dan genset berbahan bakar solar dan bensin. Selain terletak di pedalaman, jalan akses menuju desa ini masih berupa tanah yang masih bertabur batu kerikil dan apabila turun hujan, dipastikan lumpur maupun becek menjadi hambatan berat. Dalam satu malam saja, warga Desa G bisa menghabiskan 5 liter solar dan dalam satu bulan untuk mendapatkan cahaya listrik serta beraktivitas di malam hari dengan menggunakan listrik dari genset berbahan bakar solar, para warga harus merogoh kocek antara Rp 200.000 hingga Rp 500.000. Biaya yang cukup mahal bukan? Hal ini terus terjadi setiap malam, mengingat aliran listrik ke desa tersebut hanya dari siang hingga sore hari dan pada malam hari jika bahan bakar untuk genset habis, para warga pun terpaksa beristirahat dalam keadaan yang gelap gulita. Anak-anak di desa itu pun tidak bisa belajar dengan nyaman pada saat malam dan beberapa aktivitas di malam hari pun jika bahan bakar gensetnya habis pun akan terganggu. 

Seorang ibu rumah tangga setempat, bernama Marni mengungkapkan, sulit baginya untuk beraktivitas di malam hari karena keterbatasan bahan bakar untuk menyalakan genset. Marni yang sehari-harinya membuka usaha warung makan itu mengeluhkan biaya yang sangat mahal jika ingin mendapat aliran listrik. Sampai suatu ketika ada seorang pemuda yang bernama Adi yang melakukan penelitian di desa tempat Marni tinggal. Karena seringnya melakukan penelitian di desa tersebut, Adi pun menjadi langganan di warung makan milik Marni. Suatu hari Marni bercerita mengenai tarif listrik yang naik yang membuatnya bekerja ekstra keras untuk berjualan, Adi si pemuda yang menjadi pelanggan Marni tertarik dengan cerita tersebut, Adi sendiri memang sedang melakukan riset mengenai Solar Panel menjadi terinspirasi untuk membantu Marni. Adi dengan dibantu Marni pun berusaha menjelaskan tentang kegunaan Solar Panel ini ke warga setempat. Namun adanya kendala dalam penggunaan Solar Panel yang Adi ceritakan yaitu biaya yang sangat mahal dan lantas warga di desa tersebut pun menolak ide Adi ini. Tapi entah mengapa Marni sangat yakin dengan penggunaan Solar Panel ini, meskipun ia tidak terlalu paham dengan cara penggunaannya namun ia merasa pasti akan besar efeknya di kemudian hari. 

Marni pun meminta penjelasan lebih jelas kepada Adi agar ia dapat meyakinkan warga di desanya. Beberapa hari kemudian, Adi menelpon Marni, ia mendapatkan kabar bahagia terdapat perusahaan yang menjual Solar Panel dengan cara cicilan bertahap. Marni mulai mengeluarkan buku dan kalkulatornya dan menghitung berapa banyak yang dibutuhkan jika para warga setuju ikut patungan membeli Solar Panel ini yang dapat digunakan secara bersama-sama. Pada akhirnya Solar Panel ini pun dapat terbeli dan terpasang di desa tersebut dan semenjak ada Solar Panel tersebut, pengeluaran warga setempat dapat berkurang. Jika dahulu satu bulan mereka mengeluarkan Rp 500.000 hanya untuk beli solar, sekarang hanya Rp 30.000 dan ini sangat menguntungkan. Uangnya bisa dialihkan untuk keperluan lain. Sejak dialirinya listrik tenaga surya, denyut ekonomi di desa tersebut mulai terlihat. Usaha kecil mulai bermunculan dan anak-anak bisa belajar dengan tenang di malam hari. Selain untung secara ekonomi, pemanfaatan energi surya ini tidak bising dan bersih. Jika menggunakan genset akan menimbulkan suara bising, sementara itu kotor, banyak oli dan minyak genset bisa tumpah dan mengotori tanah. Warga setempat juga menyadari bahwa penggunaan energi surya tidak menghasilkan polusi, berbeda dengan penggunaan genset yang menghasilkan polusi asap solar dan bensin, mengotori udara dan termasuk polusi tanah. Marni dan warga Desa G pun dapat terbantu setelah adanya Solar Panel ini dan menurut Marni, memang kesan mahalnya terasa di awal namun selanjutnya warga tak harus mengeluarkan uang banyak, jadi tinggal perawatan peralatan secara berkala. Memang sudah seharusnya Indonesia meninggalkan energi listrik dari sumber fosil yang tidak ramah lingkungan dikarenakan Indonesia memiliki banyak sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk energi listrik.

Apakah anda ingin daerah rumah anda seperti kisah diatas? Jika memang anda mulai peduli tentang dampaknya nanti, mungkin beralih ke sumber Renewable Energy bisa menjadi pilihan. Seperti REEF sebagai aplikasi financing berbasis Blockchain yang hadir untuk memberi solusi bagi terciptanya kelestarian lingkungan dengan Solar Panel yang di produksi oleh perusahaan JSKY sebagai partner. REEF berkomitmen untuk menghasilkan energi bersih dan juga menginspirasi masyarakat untuk segera beralih ke Renewable Energy serta menjaga kelestarian lingkungan. Ingin tahu lebih lanjut? Langsung saja klik www.reef.id untuk informasi selengkapnya.

Posted on

Perubahan Iklim Ikut Merubah Hidupku

Perubahan Iklim Ikut Merubah Hidupku

Ketika ku bangun dari tidur ku yang lelap, aku langsung membuka jendela dengan niat untuk menikmati udara pagi ini. Tetapi bukan indahnya pagi yang ku lihat, namun yang ku lihat hanya kabut yang menyelimuti gedung-gedung di sekitar rumah ku itu dan matahari pagi yang memancarkan cahayanya yang berkilau dan menerpa jendela kamar ku nampak kurang terang sinarnya akibat tertutup kabut yang menyelimutinya. Aku pun langsung pergi ke halaman lalu duduk dibawah pohon cemara yang sudah tua. Di sekelilingku tampak bunga-bunga kecil yang tumbuh asri dan ditemani oleh beraneka dedaunan kering yang terbaring dengan lekukan tak beraturan. Aku mulai menyapu daun-daun tersebut agar halaman ku terlihat bersih dari sampah daun tersebut.

Setelah aktivitas menyapu itu, lalu mataku melihat lebih jauh ke sekeliling wilayah rumah ku, banyak perubahan yang terjadi setelah 3 tahun aku tinggal di daerah ini. Yang kulihat sekarang, tempat-tempat di sekitar ku sudah sangat jauh berbeda. Tadinya sekeliling rumah ku dan tetangga ku masih banyak lahan-lahan yang ditumbuhi pepohonan yang rimbun pada saat awal aku pindah kesini, namun sekarang semuanya berganti dengan beberapa gedung perkantoran dan membuat daerah rumah ku menjadi pemukiman padat. Karena banyak gedung-gedung yang dibangun di sekitar rumah ku, hiruk pikuk kendaraan pun ikut jadi ikut bertambah dan kendaran-kendaraan yang tiada hentinya melaju di jalan pun meninggalkan kepulan-kepulan asap yang dimana menghasilkan gas karbondioksida dan membuat polusi udara. Belum lagi ditambah bisingnya suara-suara dari knalpot kendaraan bermotor yang membuat telinga ku sakit. Aku pun melihat sekeliling, ternyata daerah rumah tempat ku kini berada hanyalah sebuah komplek diantara gedung-gedung pencakar langit. Aku pun mencoba menghela nafas panjang, wangi bunga-bunga di halaman rumah ku yang tadinya enak dirasakan oleh hidung kini berganti dengan aroma yang tidak enak dan sungguh menyesakkan dada. Aku lalu mencoba pergi dari rumah ku dan berjalan langkah demi langkah menyusuri trotoar dan berharap dapat menghirup udara pagi yang segar, tetapi semakin jauh aku berjalan, malah semakin tidak enak rasanya dan membuat sesak dada ku.

“Akh… Polusi.” Aku bergumam dengan kesal.

Tepat di tepi trotoar aku berdiri, ku lihat banyak kendaraan yang berlalu lalang dan silih berganti sehingga membuat kemacetan di daerah tersebut. Aku mencoba bergegas dari tempat itu, tetapi beberapa meter aku berjalan, ku lihat lagi kendaraan dan masih saja terjadi kemacetan. Kenapa kemacetan selalu jadi permasalahan? Apakah tidak ada penanganannya? Mungkin itu hanya pertanyaan standar. Semakin padatnya gedung-gedung perkantoran di daerah ku, eksploitasi lahan untuk pembangunan gedung-gedung semakin gencar dilakukan pihak-pihak industri. Lalu dengan banyaknya gedung-gedung perkantoran, semakin banyaknya juga orang yang berlalu lalang ke tempat itu dan banyak juga yang menggunakan kendaraan bermotor. Solusi akhir dari kemacetan ini adalah menumpuknya kendaraan dan akibatnya menimbulkan polusi udara.

Aku pun mulai berpikir keras. Mungkin industri-industri seperti ini memang tidak mengganti dengan hal yang lebih baik, tapi mereka menggantinya dengan pagar-pagar beton. Mereka pun tidak menyadari bahwa tumbuh-tumbuhan dan bumi kita sedang menangis, meratapi polusi-polusi yang datang untuk membunuh mereka. Hal-hal seperti bencana alam yang datang adalah bukti kemurkaan mereka, dan tentunya akan merugikan kita juga. Ingatkah beberapa tahun silam, ketika kampanye perubahan iklim sedang digembar-gemborkan? Kita baru bertindak ketika pemborosan energi telah terjadi, sebelumnya kita seakan acuh pada lingkungan kita sendiri dan akibat pemborosan energi serta asap dari kendaraan bermotor tersebut sekaligus memberikan efek rumah kaca pada langit akibat gas pembuangan yang mengapung di atmosfir serta memberikan efek buruk terhadap sejuta umat manusia di dunia. 

Pentingnya menjaga lingkungan harus diterapkan sejak dini dan kita semua harus paham betul tentang dampak yang akan terjadi jika kita tidak menjaga lingkungan dengan benar. Janganlah menjadi manusia yang egois, alam ini bukan hanya milik generasi kita, masih ada generasi-generasi selanjutnya yang ingin merasakan kesejukan pepohonan serta keasrian lingkungan. Janganlah ditebang sembarangan, masih akan ada generasi yang ingin merasakan udara pagi yang sejuk dan teduh serta jangan pula mencemari udara dengan asap kendaraan. Saat ini pun banyak Renewable Energy yang bisa menjadi pilihan terbaik dalam menghadapi situasi seperti ini. Banyak yang kita bisa manfaatkan dari alam sekitar kita sebagai sumber energi mulai dari matahari, angin, panas bumi dan bahkan air. Tanpa kita sadari, matahari memberikan banyak manfaat dalam kehidupan dan salah satunya bisa sebagai sumber energi yang ramah lingkungan dan tanpa menghasilkan emisi gas karbon yang dapat mencemari udara. Sinar matahari yang kita dapatkan dapat diolah menjadi energi dengan perantara alat seperti Solar Panel.

Solar Panel sendiri sebagai salah satu alat untuk menghasilkan Renewable Energy bisa jadi pilihan, mengingat sumber energi yang diterima oleh alat tersebut tak akan habis. Terlebih lagi untuk kita yang tinggal di Indonesia, negara kita berada di garis khatulistiwa sehingga sepanjang tahun akan terus disinari oleh matahari sehingga Solar Panel sangat potensial untuk menjadi sumber energi baru yang dipasang di rumah maupun gedung-gedung perkantoran anda. REEF sebagai aplikasi financing berbasis Blockchain hadir sebagai solusi untuk mempermudah masyarakat yang tak ingin terus menjadi korban emisi karbon di masa depan. Bekerjasama dengan perusahaan JSKY sebagai produsen Solar Panel, REEF mengajak kita untuk mengubah gaya hidup dan beralih ke Solar Panel. Jika bisa dilakukan, anda minimal sudah berkontribusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Ingin tahu lebih banyak tentang REEF langsung saja klik https://www.reef.id untuk informasi selengkapnya.

Posted on

Upaya Menanggulangi Masalah Polusi Udara

Upaya Menanggulangi Masalah Polusi Udara

Apakah kalian tahu bahwa pencemaran lingkungan merupakan masalah utama yang memiliki potensi untuk mengakibatkan kepunahan umat manusia di bumi jika tidak segera diatasi? Dari berbagai jenis polusi, polusi udara adalah salah satu yang membutuhkan perhatian segera. Permasalahan polusi udara serta pemanasan global yang mengakibatkan peningkatan jumlah gas rumah kaca di udara adalah masalah yang paling parah dihadapi manusia pada saat ini. Untuk itu, diperlukan adanya sebuah perubahan besar pada teknologi dan sosial yang didukung oleh aspek  keuangan dan politik yang dilakukan oleh suatu Industri. Untuk saat ini bisa dibilang masih sedikit sangat sedikit industri yang menggunakan teknologi ramah lingkungan, karena para pengusaha industry tersebut lebih cenderung fokus dalam mencari keuntungan dibandingkan untuk menyelamatkan lingkungan yang dimana itu memerlukan biaya yang sangat besar. Tetapi pada saat ini dengan adanya inovasi pada teknologi ramah lingkungan yang mampu menghemat biaya maka penyelamatan lingkungan pun dapat dilakukan sejalan dengan tujuan perusahaan dalam mencari keuntungan, dan nantinya akan mampu mengatasi kontaminasi dan pencemaran di lingkungan industri. 

Polusi udara di Jakarta jadi pembahasan yang hangat belakangan ini. Salah satu situs yang menyediakan angka pengukuran kualitas udara yaitu AirVisual menunjukkan tingkat pencemaran udara di Jakarta sebulan terakhir masuk kategori tidak sehat. Masalah polusi udara di Jakarta menjadi ramai dibahas sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan AirVisual menunjukkan air quality index (AQI) Jakarta berada pada angka 168 atau masuk kategori unhealthy. Di wilayah Indonesia sendiri khususnya Jakarta bahkan sempat menduduki ranking 1 kota paling berpolusi di dunia pada tahun 2019 ini. Saat itu, AQI Jakarta berada di angka 184 berdasarkan pengukuran dan kandungan PM 2,5 pagi itu, berdasarkan data AirVisual adalah 119.8 µg/m³. Kondisi udara Jakarta tidak juga kunjung membaik, bahkan di akhir pekan. Padahal, pada akhir pekan tidak banyak aktivitas perkantoran maupun pabrik yang artinya berbanding dengan jumlah kendaraan di ibu kota juga menurun. Saking berpolusinya udara di Jakarta kadang membuat mata kita bisa tertipu. Seringkali kita melihat kabut atau embun yang menutup dan mengaburkan pandangan pada gedung-gedung pencakar langit di ibu kota, tapi ternyata itu bukan kabut. Langit Jakarta sendiri jarang terlihat benar-benar biru dan warna langit lebih sering kelabu padahal sedang tak mendung.

Pemprov DKI Jakarta sendiri tetap mengambil langkah-langkah perbaikan demi menciptakan kualitas udara yang lebih baik untuk warganya. Mulai dari mewajibkan uji emisi, penggunaan baterai untuk mengganti genset, hingga membagikan tanaman kepada warga dan Pemprov DKI Jakarta juga terus mengkampanyekan agar warganya bisa beralih ke moda transportasi umum yang bertujuan untuk mengurangi jumlah kendaraan yang berada di jalanan sehingga bisa menekan tingkat polusi udara. Ada sejumlah hal yang menjadi penyumbang polutan di Jakarta. Yang pertama dan paling utama adalah kendaraan bermotor, seiring dengan meningkatnya kepadatan penduduk Jakarta maka jumlah kendaraan pun semakin meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah tersebut kebanyakan di dominasi oleh sepeda motor lalu disusul mobil penumpang, mobil beban, bus serta kendaraan lainnya. Jumlah ini pun belum termasuk lagi dengan kendaraan-kendaraan dari wilayah sekitar Jakarta yang masuk ke wilayah DKI Jakarta setiap harinya. 

Banyaknya kendaraan pribadi ini sebenarnya tak terlepas dari dua faktor, yaitu kelakuan manusianya dan yang kedua itu tata kotanya. Manusia Jakarta zaman sekarang, lebih suka hidup dengan simpel. Permasalahannya hal itu berbanding terbalik dengan jumlah transportasi umum di Jakarta yang tidak mendukung keinginan hidup seperti itu. Permasalahan kedua yaitu tentang tata kota. Yang menjadi faktor membuat jumlah kendaraan pribadi di Jakarta makin mengalami peningkatan secara pesat adalah karena Jakarta tidak dibangun dengan perencanaan yang jelas, hampir setiap tempat ada kantor, wilayah yang khusus untuk tempat tinggal juga tak jelas. Jakarta sendiri dinilai juga sangat padat hingga banyak jalan-jalan maupun gang-gang kecil yang tak bisa diakses oleh transportasi umum. Permasalahan inilah yang memicu sulitnya menata sistem transportasi di ibu kota.

Belum lagi di Jakarta masih banyak sekarang industri-industri besar yang masih menggunakan pembakaran minyak dan menyebabkan emisi gas rumah kaca, jumlah penggunaannya pun harus dibatasi dan jika mungkin harus dihilangkan sama sekali. Untuk mengatasi terjadinya polusi, limbah, maka kini diperlukan gerakan ramah lingkungan bagi industri di Indonesia khususnya di Jakarta untuk menunjukkan tanggung jawabnya kepada masyarakat. Pemerintah pun harus memberikan aturan yang tegas terhadap kewajiban industri untuk menjaga kelestarian lingkungan dan sebenarnya pemerintah sendiri juga telah melakukan berbagai cara dalam mengatasi dampak dari polusi udara yang ada di Jakarta yaitu dengan cara melakukan tindakan penghijauan terutama di daerah-daerah industri dan perkotaan. Karena dapat mengurangi polusi-polusi yang disebabkan alat transportasi atau semacamnya dengan cara diserap oleh tumbuhan-tumbuhan dari hasil penghijauan tersebut. Lalu dengan cara mengedukasi warganya untuk segera beralih ke Renewable Energy, dengan menggunakan Renewable Energy ini kita dapat meminimalisir dampak dari emisi karbon yang bisa menyebabkan polusi udara terlebih di kota-kota besar seperti Jakarta ini masih banyak yang menggunakan energi yang memicu emisi karbon.

Solar Panel sendiri sebagai salah satu alat untuk menghasilkan Renewable Energy bisa jadi pilihan, mengingat sumber energi yang diterima oleh alat tersebut tak akan habis. Terlebih lagi negara Indonesia berada di garis khatulistiwa sehingga sepanjang tahun akan terus disinari oleh matahari sehingga Solar Panel sangat potensial untuk menjadi sumber energi baru yang dipasang di rumah maupun gedung-gedung perkantoran anda. REEF aplikasi financing berbasis Blockchain hadir sebagai solusi untuk mempermudah masyarakat yang tak ingin terus menjadi korban emisi karbon di masa depan, bekerjasama dengan perusahaan JSKY sebagai produsen Solar Panel. Dengan mengubah gaya hidup dan beralih ke Solar Panel, anda minimal sudah berkontribusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Ingin tahu lebih banyak tentang REEF langsung saja klik https://www.reef.id untuk informasi selengkapnya. 

Posted on

Solusi Untuk Kehidupan Yang Lebih Baik

Solusi untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Hampir setiap hari, dari mulai hari selasa sampai hari minggu. Seorang pria bernama Bimo menjalankan usaha warung kopi kekinian miliknya, dengan dibantu beberapa karyawannya ia setiap siang selalu bergegas untuk membuka warung kopi kekinian miliknya tersebut. Bimo sendiri selalu bersemangat ketika waktu weekend tiba, karena menurutnya banyak sekali anak-anak muda yang datang ke warung kopinya untuk sekedar berkumpul dengan teman-temannya sekaligus bersenda gurau disana. Ketika hari semakin sore, semakin banyak sekali pengunjung yang datang ke warung kopi miliknya untuk sekedar mengisi perut maupun menikmati kopi hitam dan kopi susu disana. Selain tempatnya nyaman, harganya pun juga terjangkau di kalangan anak muda dan itu lah yang membuat warung kopi milik Bimo ini laris manis untuk tempat berkumpul dengan teman-teman. 

Pilihan menunya pun sangat beragam seperti mie instan, pizza mie, roti bakar, pisang bakar menjadi menu andalan di warung kopinya, belum lagi dari segi minuman ada kopi hitam, kopi susu, es susu segar dan bahkan es soda gembira yang sangat cocok disajikan dengan cemilan-cemilan yang ada di warung kopi miliknya. Walaupun bisa dibilang menu tersebut merupakan menu standar warung kopi pada umumnya, tapi yang membuat warung kopi Bimo menjadi warung kopi kekinian adalah ditambahkannya topping-topping menarik ke dalam menunya sehingga menjadi lebih menggugah selera makan. Topping-topping tersebut berupa sosis, bakso, keju bahkan daging cincang dan meskipun adanya topping-topping tersebut, harga masih tetap bisa dijangkau. Ditambah lagi dengan interior warung kopinya yang nyaman dan enak dipandang serta jauh dari kesan jorok, hal itu membuat orang-orang terkadang rela antri untuk bergantian makan maupun nongkrong di warung kopi miliknya tersebut, apalagi jika memasuki weekend. Weekend ini berjalan seperti biasanya, warung kopi milik Bimo ini selalu ramai dan tidak ada meja mau pun kursi yang kosong. Apalagi jika weekend seperti ini sering ada live music yang diisi oleh musisi jalanan di sekitar wilayah warung kopinya Bimo, dijamin makin nyaman untuk berkumpul dengan teman-teman.

Dengan senang hati, Bimo dengan dibantu 3 karyawannya langsung membuat menu-menu yang sudah dipesan pelanggan seperti mie instan, roti bakar, kopi hitam dan lain-lain. Namun saat Bimo mau membuat pesanan es susu segar dengan menggunakan blender, tiba-tiba beberapa menit kemudian tanpa adanya pemberitahuan dari PLN sebelumnya, listrik di warung kopi miliknya tiba-tiba mati total. Bimo pun kaget dan langsung meminta tolong kepada karyawannya yang lain untuk mengecek lingkungan sekitar apakah hanya warung kopinya yang mati atau tidak. Setelah di cek, karyawannya memberitahu bahwa rumah-rumah warga di sekitar warung kopinya juga mengalami hal yang sama. Gangguan listrik padam ini terjadi karena adanya gangguan dari pusat sehingga pemadaman bergilir pun tak bisa dihindari. Bimo pun beserta karyawannya hanya bisa menunggu listrik untuk kembali menyala. 

“Mohon maaf mas dan mba sekalian, kita kena pemadaman bergilir dan sekarang listriknya sedang mati. Jadi tidak bisa memesan apa-apa. Kita coba tunggu dulu sampai menyala.” Ujar Bimo beserta karyawan lainnya kepada setiap pelanggan yang baru datang dan beberapa yang masih menunggu pesanan di warung kopi miliknya. Beberapa menu di warung kopi miliknya itu rata-rata mengandalkan alat-alat bertenaga listrik seperti kompor untuk memasak, blender untuk membuat minuman serta freezer untuk mendinginkan es batu. Bimo sendiri juga tidak memiliki tenaga cadangan listrik seperti Genset untuk menyalakan listrik di warung kopi miliknya. Jadi bisa dibilang, sumber energi utama berjalannya usaha warung kopi milik Bimo ini adalah dengan menggunakan tenaga listrik.

Menjelang malam ketika Bimo dan karyawannya sudah hampir 3 jam menunggu, listrik pun tidak kunjung menyala juga dan ternyata setelah mendengar berita dari warga sekitar, PLN memberi tahu bahwa pemadaman ini memakan durasi yang agak lama. Jadinya warung kopi milik Bimo ini tidak bisa menjual menu-menu andalannya dikarenakan pemadaman listrik tersebut. Bimo pun terkejut dan hanya bisa pasrah mendengar berita ini. Hal ini tentu mengganggu seluruh operasional di warung kopi miliknya baik dari kompor, blender, freezer es bahkan kulkas pun tidak bisa menyala akibat pemadaman ini.

Setelah mendapat informasi resmi dari pihak PLN tentang pemadaman listrik ini, Bimo pun langsung segera membereskan warung kopinya dan meminta maaf kepada pelanggan-pelanggannya karena pesanan tidak dapat dibuat. Bimo pun terpaksa menutup warung kopinya dan ia pun malah merugi karena terpaksa menutup warung lebih cepat dari biasanya, apalagi memasuki weekend seperti ini yang dimana pelanggan sedang ramai-ramainya untuk singgah ke warung kopinya untuk nongkrong dan bersantai dengan teman-teman. Tentunya untuk kedepannya Bimo tidak mau hal ini terjadi lagi kepada usaha warung kopi miliknya, karena hal ini sangat berdampak besar pada pemasukan Bimo sebagai perintis usaha kecil dan menengah. Seperti cerita diatas, kita pun sebagai orang yang hidup di negara tropis dan memiliki usaha yang sangat bergantung dengan tenaga listrik, sangat ideal tentunya untuk memiliki Solar Panel sebagai alternatif tenaga listrik guna menghindari kerugian-kerugian yang bisa terjadi akibat pemadaman bergilir. 

Oleh karena itu, REEF sebuah aplikasi financing berbasis Blockchain adalah solusi anda untuk mempermudah aliran listrik di kehidupan anda di zaman modern seperti ini. Salah satu cara untuk memanfaatkan panasnya matahari yaitu lewat penyediaan Solar Panel yang di produksi oleh perusahaan JSKY yang bekerjasama dengan REEF. Dengan mengubah gaya hidup anda dan beralih ke Solar Panel, anda minimal sudah turut membantu dalam menghemat listrik serta membantu kelestarian lingkungan. Yuk mulai beralih dan pasang Solar Panel ini melalui REEF! Ingin tahu lebih banyak, langsung saja klik www.reef.id untuk informasi selengkapnya.

Posted on

Sebuah Inspirasi Dari Cahaya Matahari

Sebuah Inspirasi dari Cahaya Matahari

Tidak pernah terpikir sebelumnya oleh Bu Ratna, wanita berusia 40 tahun tersebut bahwa kepindahannya ke Desa A beberapa tahun silam akan membawanya kepada hari-hari penuh kegelapan. Demi mengikuti orang tuanya yang merantau, Bu Ratna yang pada saat itu baru lulus Sekolah Menengah Pertama, harus meninggalkan Kota B demi mendapat kehidupan yang lebih baik. Namun ternyata, lingkungan tempat tinggal barunya tersebut sangat terpencil dan masih belum terjangkau oleh aliran listrik dari kota, meski banyak sumber daya alam yang melimpah di wilayah tersebut. Bertahun-tahun lamanya, Bu Ratna mengenang masa-masa SMA nya sangat kesulitan untuk belajar terutama di malam hari. Karena listrik hanya mengaliri desa nya pada saat siang hari saja untuk menjalankan roda usaha di wilayah Desa A tersebut. Bu Ratna pun juga jarang sekali bisa mendapat hiburan dari televisi, radio maupun handphone pada saat itu.

Pada malam hari karena tidak di aliri listrik, warga Desa A menggunakan lampu berbahan bakar minyak tanah sebagai sumber penerangan, namun tak jarang juga sebagian warga terkadang harus menarik kabel dari desa lain untuk mengalirkan listrik dengan jarak hingga berkilo-kilometer untuk memenuhi kebutuhannya di malam hari. Maklum Desa A ini termasuk dalam wilayah pelosok dan untuk menjangkau wilayah ini harus menggunakan jalan darat yang berbatu karena jalan akses di Desa A belum di aspal dan jaraknya agak lumayan jauh dari kota. Warga Desa A sebenarnya sempat meminta bantuan kepada pemerintah. Namun, karena faktor jumlah penduduknya yang sedikit serta sulitnya akses membuat pemerintah mengalami kesulitan dalam menjangkau wilayah tersebut. Berbagai cara pun di tempuh demi mendapatkan pasokan listrik untuk Desa A, namun berujung sia-sia karena kembali lagi pada sulitnya akses untuk memasuki wilayah tersebut. Warga-warga Desa A pun demi memenuhi kebutuhannya sehari-hari mereka bekerja dengan bercocok tanam maupun berternak ayam atau sapi dan setelah menuai hasil, mereka akan menjualnya ke kota terdekat dan mendapatkan hasil yang lumayan untuk memenuhi kebutuhan warga Desa A tersebut.

Secercah harapan pun muncul ketika beberapa mahasiswa dari Kota B melakukan KKN di Desa A, mereka sedang meneliti tentang efek sinar matahari untuk dijadikan sumber listrik yang berguna untuk kehidupan. Setelah melalu berbagai kajian dan penelitian, para mahasiswa tersebut menghadirkan energi bertenaga surya di sana. Teknologi yang dikembangkan para mahasiswa KKN ini berbentuk Solar Panel yang diharapkan bisa memberikan kesejahteraan bagi warga Desa A yang selama ini tertinggal. Dengan modal dari para mahasiswa serta beberapa dana hibah dari warga Desa A, mereka melakukan pembangunan instalasi beberapa pasang Solar Panel sebagai bahan uji coba di Desa A. Tujuannya agar masyarakat di Desa A tersebut dan sekitarnya bisa mendapatkan energi untuk penerangan kehidupan mereka. Pada awalnya para warga Desa A merasa bingung dengan teknologi Solar Panel ini, namun setelah diberi arahan dan edukasi yang cukup oleh para mahasiswa KKN ini para warga menjadi lebih mengerti tentang pemanfaatan energi tenaga surya ini untuk kehidupan mereka. Mereka juga di edukasi tentang energi listrik yang sekarang mereka pakai masih menggunakan bahan bakar fosil yang nantinya akan habis dan juga tentang dampak buruk akibat masih menggunakan bahan bakar fosil tersebut.

Kini pada malam hari, di beberapa wilayah Desa A sudah teraliri listrik melalui Solar Panel tersebut. Kapasitas pembangkit listrik yang diserap melalui energi surya tersebut juga mampu menerangi masjid, sekolah serta rumah-rumah warga yang ada di Desa A. Bu Ratna pun mengatakan jika dulu ia tidak bisa melakukan banyak hal di malam hari dan menjalani hidup dengan keadaan yang begitu-gitu saja, tetapi kini setelah ada pasokan listrik melalui energi surya ini ia beserta warga desa nya bisa menjadi lebih maju. Kehidupan sehari-hari pun menjadi lebih mudah karena mereka bisa mulai menggunakan alat elektronik terutama pada malam hari. Untuk masak nasi misalnya, Bu Ratna sekarang bisa menggunakan rice cooker untuk memasak nasi di malam hari untuk makan malam keluarganya dan yang terpenting saat ini anak-anaknya bisa belajar dengan nyaman di malam hari.

Bu Ratna pun mengatakan bahwa perkembangan di Desa A menjadi lebih signifikan setelah teraliri listrik terutama pada malam hari. Setelah Desa A semakin berkembang, masyarakat lebih giat dalam bekerja sehingga bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Warga Desa A pun membuat sebuah koperasi untuk meningkatkan produk lokal dari desa mereka. Mereka mengolah hasil bumi serta ternak mereka untuk dijual ke kota dan mereka juga mengolahnya menjadi produk makanan lain yang tentunya meningkatkan nilai jual mereka. Hal ini baru bisa mereka lakukan setelah adanya pasokan listrik dari Solar Panel. Dulu, warga Desa A harus langsung menjual hasil bumi mereka ke kota karena mereka tidak ada listrik untuk menjalankan mesin pendingin pada malam hari. Daripada busuk, mereka lebih memilih untuk menjual langsung ke kota.

Anda tidak ingin seperti Bu Ratna dan warga Desa A yang harus hidup dalam kegelapan akibat pasokan listrik yang tidak merata? Memang pasokan listrik dari bahan bakar fosil suatu saat akan habis dan jika memang anda mulai peduli tentang dampaknya nanti, mungkin beralih ke sumber Renewable Energy bisa menjadi pilihan. Seperti REEF sebagai aplikasi financing berbasis Blockchain yang hadir untuk memberi solusi bagi terciptanya lingkungan yang hemat energi dan menjaga kelestarian lingkungan dengan Solar Panel yang di produksi oleh perusahaan JSKY sebagai partner. REEF berkomitmen untuk menghasilkan energi bersih dan juga menginspirasi masyarakat untuk segera beralih ke Renewable Energy untuk menjaga kelestarian lingkungan. Ingin tahu lebih lanjut? Langsung saja klik www.reef.id untuk informasi selengkapnya.

Posted on

Mulailah Memanfaatkan Energi Yang Ada Di Sekitar Kita

Mulailah Memanfaatkan Energi yang Ada di Sekitar Kita

Seperti yang telah kita ketahui bahwa sumber energi dari matahari sangat bermanfaat dalam kehidupan kita sehari-hari, pada dasarnya setiap hari matahari menyinari bumi dan menyediakan sinar yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk melakukan fotosintesis hingga menghasilkan oksigen untuk menjaga temperatur bumi tetap stabil hingga bumi menjadi tidak beku. Energi matahari telah dimanfaatkan di banyak belahan dunia dan jika di eksplotasi dengan tepat, energi ini berpotensi mampu menyediakan kebutuhan konsumsi energi dunia saat ini dalam jangka waktu yang lebih lama. Seiring perkembangan zaman, pertumbuhan umat manusia dimuka bumi ini semakin meningkat dan mempunyai dampak yang luas. Salah satu dari sekian banyak dampak yang saat ini menjadi sorotan adalah kebutuhan akan energi. Kebutuhan akan energi saat ini sudah tidak bisa ditawar tawar lagi karena sudah menjadi bagian dari suatu fase kehidupan. Apapun aktivitas manusia tidak akan terlepas dari yang namanya energi baik itu energi minyak, energi listrik dan sebagainya.

Penggunaan akan energi pada saat ini telah mencapai suatu titik kondisi yang mengkhawatirkan, betapa tidak energi yang saat ini paling banyak digunakan berupa minyak bumi, batu bara dan gas alam dari pada sumber energi lain. Energi listrik yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari pun sebagian besar menggunakan bahan bakar minyak dan batu bara dalam memproduksi listriknya. Walaupun sekarang penggunaan pembangkit listrik tanpa menggunakan bahan bakar fosil sudah mulai bermunculan namun jumlahnya masih sangat sedikit untuk menyuplai kebutuhan umat manusia di dunia. Diperkirakan cadangan sumber energi yang berasal dari fosil ini hanya akan mampu bertahan kurang dari 50 tahun lagi untuk bahan bakar minyak dan 100 tahun lagi untuk bahan bakar batu bara, ini dikarenakan bahan bakar minyak, gas alam serta batu bara merupakan sumber energi yang akan habis setelah dipakai dan tidak bisa di daur ulang. Seiring dengan hal tersebut maka lambat laun harga bahan bakar ini juga akan semakin meningkat nantinya mengingat adanya keterbatasan dari produk bahan bakar tersebut. Dengan menipisnya cadangan sumber energi yang berasal dari fosil ini, dari kedua bahan bakar mempunyai permasalahan lainnya. Kedua bahan ini bisa dibilang menjadi sumber dari penyumbang gas karbon terbesar di dunia yang telah mengakibatkan terjadinya perubahan iklim akibat dari emisi gas karbon yang dilepaskan ke udara serta membentuk efek rumah kaca sehingga berakibat terciptanya suatu keadaan yang sekarang kita kenal dengan sebutan pemanasan global.

Dalam pemanfaatannya, energi matahari seringkali dimanfaatkan dalam berbagai aspek dalam kehidupan kita seperti contohnya sinar matahari dibutuhkan dalam kegiatan pengeringan bahan makanan secara alami, bisa membantu dalam kegiatan pertanian, membantu dalam aktivitas rumah tangga seperti pengeringan baju secara alami dibawah terik matahari, hingga menjadi sumber energi baru terbarukan yang dapat dikonversikan menjadi tenaga listrik menggunakan alat bernama Solar Panel yang dapat bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan akan tenaga listrik. Tanpa kita sadari sebelumnya, sebenarnya pemanfaatan energi matahari menjadi tenaga listrik sudah kita rasakan sejak dulu, seperti contohnya pada saat sekolah dulu kita pasti sering menggunakan kalkulator atau kamus bahasa inggris elektronik. Kedua alat tersebut tanpa kita sadari memiliki komponen sel surya, jadi ketika baterai kalkulator habis kita bisa meletakan kalkulator atau kamus bahasa inggris elektronik kita di bawah sinar matahari dan dalam beberapa waktu ke depan, kita pun masih bisa menggunakan kalkulator atau kamus bahasa Inggirs elektronik tersebut.

Seperti cerita Jodi yang telah melakukan perombakan dalam penggunaan listrik di rumah pribadinya yang berada di salah satu kota besar di Indonesia. Hal yang pertama ia lakukan adalah melakukan pemasangan Solar Panel sebagai sumber utama listrik di rumahnya. Jodi menjelaskan bahwa Solar Panel tersebut saat ini sudah terpasang di rumahnya dan dengan Solar Panel tersebut akan mampu menghasilkan tenaga listrik ber kapasitas sekitar 3.000 watt. Kapasitas listrik tersebut dinilai Jodi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik di rumahnya. Meski begitu, Jodi mengaku tidak akan memutuskan aliran listrik prabayar yang ada di rumahnya. Hal itu dilakukannya hanya sebagai cadangan jika suatu saat rumahnya membutuhkan tambahan daya listrik dan sebagai sumber cadangan listrik apabila terjadi pemutusan oleh PLN. Jodi sendiri pun berharap apa yang ia lakukan tersebut kedepannya dapat dicontoh dan diterapkan oleh seluruh masyarakat di Indonesia guna beralih ke Renewable Energy. Perlahan tapi pasti sumber energi matahari ini akan dirasakan manfaatnya jika sumber-sumber energi dari fosil telah habis atau langka.

Dari cerita diatas, memungkinkannya sinar matahari dijadikan sebagai energi alternatif melalui perantara Solar Panel ini tentu menjadi pilihan terbaik dalam mencegah pemanasan global, mengingat sumber energi yang diterima oleh alat tersebut tak akan habis. Terlebih lagi banyak wilayah yang sepanjang tahun terus disinari oleh matahari sehingga Solar Panel sangat potensial untuk menjadi sumber energi baru yang dipasang sebagai alat penghasil sumber Renewable Energy. Untuk itu, REEF sebagai aplikasi financing berbasis Blockchain yang bekerjasama dengan perusahaan JSKY sebagai produsen Solar Panel hadir sebagai solusi untuk mempermudah masyarakat yang tak ingin terus menjadi korban emisi karbon di masa depan. Dengan mengubah gaya hidup dan beralih ke Solar Panel, anda minimal sudah berkontribusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Yuk, kita mulai manfaatkan energi yang ada di sekitar kita demi kelestarian lingkungan serta kelangsungan hidup kita di masa depan. Ingin tahu lebih banyak tentang REEF langsung saja klik https://www.reef.id untuk informasi selengkapnya. 

Posted on

Membuat Udara Berkualitas, Tidak Lagi Terbatas

Membuat Udara Berkualitas Tidak Lagi Terbatas

Belakangan ini pola gaya hidup sehat di dalam masyarakat semakin sering dikembangkan. Untuk menciptakan generasi penerus yang sehat serta peduli lingkungan, macam-macam aktivitas bisa dilakukan dan sering juga kita jumpai beberapa kampanye yang menyuarakan tentang kelestarian lingkungan. Semua aktivitas ini berakar kepada satu masalah yang akhir-akhir ini menjadi topik hangat untuk diperbincangkan yaitu masalah polusi udara. Masalah polusi udara dan pemanasan global yang terjadi akhir-akhir ini menjadi momok menakutkan bagi masyarakat dan masalah ini pun menjadi alasan yang kuat mengapa saat ini beberapa orang atau aktivis mulai gencar dalam mengkampanyekan serta mempopulerkan gaya hidup yang sehat serta peduli dalam kelestarian lingkungan. 

Memulai kesadaran untuk melestarikan lingkungan tidaklah sulit dan dapat dimulai dari hal-hal kecil. Secara perlahan kesadaran ini pun mulai mencakup berbagai lapisan baik dari kalangan muda maupun tua, meskipun belum semuanya bisa menyadari mengapa kelestarian lingkungan itu penting bagi kelangsungan umat manusia. Dalam upaya pelestarian lingkungan pun, kita tidak bisa lepas dari yang namanya energi listrik. Energi listrik memang memegang peran yang penting dalam kehidupan manusia, karena dalam penggunaannya energi listrik bisa dikategorikan sebagai penggerak roda kehidupan saat ini. Tetapi yang mungkin masyarakat sekarang belum tahu adalah, edukasi tentang energi listrik yang sekarang digunakan masih menggunakan bahan bakar dari energi fosil yang menghasilkan limbah berupa emisi karbon dan hal itu lah yang nantinya memicu terjadinya polusi udara di lingkungan kita. 

Polusi udara yang dihasilkan baik dalam penggunaan energi listrik maupun asap dari pabrik dan kendaraan bermotor itu berupa kandungan karbon dioksida, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen oksida, serta partikel SPM yang dimana zat-zat polutan tersebut bisa berdampak buruk terhadap kesehatan manusia serta lingkungan sekitarnya. Seperti misalnya, gas karbon monoksida yang dapat menyebabkan kematian bagi orang yang menghirupnya, walaupun berdampak lama namun dalam beberapa kasus telah banyak orang yang meninggal akibat tertidur dalam mobil yang menyala sambil menyalakan AC dan membiarkan kaca mobilnya tertutup rapat. Gas polutan lain seperti karbon dioksida juga merupakan salah satu penyebab terjadinya global warming sedangkan sulfur dioksida dan nitrogen oksida merupakan polutan yang menjadi penyebab terjadinya hujan asam. Masyarakat sekitar juga dapat menderita beberapa penyakit akibat pencemaran udara, dan tak bisa dipungkiri bahwa polusi udara berpotensi membahayakan kesehatan. Namun, masih banyak orang yang menyepelekan bahaya polusi udara. Beberapa penyakit yang mungkin bisa terjadi di masyarakat akibat dari polusi udara tersebut antara lain penyakit Asma, Ispa, Paru-paru basah atau yang lebih parah lagi Jantung koroner akibat keracunan polusi udara. Sangat membahayakan bukan?

Mari kita ambil dari kisah Mira, seorang mahasiswi universitas terkenal di Jakarta. Mira sendiri berasal dari keluarga yang berkecukupan dan stabil dalam hal finansial, hal itu membuat Mira bisa mendapatkan berbagai macam hal yang ia mau termasuk energi listrik untuk ia pakai di dalam rumahnya. Seringkali ditemui saat siang atau pun malam, Mira senang sekali menggunakan alat-alat yang membutuhkan energi listrik seperti AC, TV, Radio dan lain-lain. Tak jarang juga jika ingin bepergian Mira membutuhkan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya setelah ia mandi. Di rumahnya pun lebih tepatnya di ruang keluarganya, AC nya pun selalu menyala setiap hari untuk mendinginkan ruang keluarganya. Tak heran aktivitas seperti itu yang dilakukan secara terus menerus lambat laun dapat menghasilkan polusi akibat pemakaian dari alat-alat yang menggunakan energi listrik tersebut. Sifat Mira dan keluarganya yang acuh dan seakan tidak peduli dengan dampak dari pencemaran lingkungan ini jika dilihat sangat memprihatinkan jika terjadi terus menerus tanpa ada yang mengedukasi mereka tentang bahaya dari energi listrik yang masih memakai pembakaran fosil ini.

Beberapa bulan kemudian pun, Mira tiba-tiba merasa sesak nafas dan langsung berkonsultasi dengan dokter langganannya. Disana ia mengeluhkan sakit serta sesak di area pernafasannya dan dokter pun langsung tau asal muasal penyakit sesak nafas yang diderita Mira ini. Ternyata berasal dari pencemaran udara yang diakibatkan oleh polusi. Setelah ditelusuri lebih lanjut, dampak dari pemakaian alat-alat bersumber energi listrik di rumah Mira ini lah jadi penyebabnya, karena masih memakai listrik dari pembakaran fosil maka akan menghasilkan limbah berupa emisi karbon dan berbahaya bagi sistem pernafasan. Dokter pun menyarankan serta mengedukasi Mira serta keluarganya untuk tidak lagi melakukan pola hidup sepeti itu, selain pemborosan juga berbahaya untuk lingkungan sekitar. Terlebih lagi, dokter pun menyarankan ke keluarga Mira untuk segera beralih ke sumber energi listrik terbarukan, selain lebih hemat dan tentunya bisa mengurangi dampak emisi gas karbon serta lebih ramah untuk lingkungan. Mengingat lingkungan rumah Mira merupakan daerah yang sering disinari oleh matahari, maka Solar Panel bisa dipakai sebagai sumber penghasil listrik alternatif untuk rumah Mira tersebut.

Solar Panel sendiri sebagai salah satu alat untuk menghasilkan Renewable Energy bisa jadi pilihan, mengingat sumber energi yang diterima oleh alat tersebut tak akan habis. Terlebih lagi negara Indonesia berada di garis khatulistiwa sehingga sepanjang tahun akan terus disinari oleh matahari sehingga Solar Panel sangat potensial untuk menjadi sumber energi baru yang dipasang di rumah anda. REEF aplikasi financing dengan sistem Blockchain hadir sebagai solusi untuk mempermudah masyarakat yang tak ingin terus menjadi korban emisi karbon di masa depan, bekerjasama dengan perusahaan JSKY sebagai produsen Solar Panel. Dengan mengubah gaya hidup dan beralih ke Solar Panel, anda minimal sudah berkontribusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Ingin tahu lebih banyak tentang REEF dan produk-produk ramah lingkungan lainnya langsung saja klik https://www.reef.id untuk informasi selengkapnya. 

 

Posted on

Potensi Dari Alam Untuk Alam

Potensi dari Alam untuk Alam

Jika kita bicara soal perubahan lingkungan memang kita tidak bisa terlepas dari adanya perubahan iklim dan cuaca. Dimana salah satu penyebab utama perubahan itu adalah kita sebagai manusia itu sendiri. Proses kerusakan alam ini telah terjadi sejak ratusan tahun lalu seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak bisa dipungkiri jika salah satu dampak negatif dari kemajuan ilmu dan teknologi adalah semakin rusaknya alam ini seperti penggundulan hutan, penambangan liar, polusi dari asap kendaraan bermotor, limbah pabrik dan sebagainya. Jika dulu orang menebang hutan hanya dengan kampak, sekarang sudah bisa menggunakan alat yang lebih canggih sehingga hutan seluas apapun di bumi ini bisa habis sekejap. Semua itu adalah sebagian dari contoh tentang penyebab dari perubahan lingkungan selama ini. Tapi apakah kita menyadari perubahan lingkungan yang terjadi di sekitar kita? Kisah berikut akan menggambarkan efek yang terjadi dari perubahan lingkungan serta solusi untuk menanggulanginya.

Adit dan sekeluarga tinggal di sebuah kampung dibagian kota Medan yang merupakan daerah dataran rendah dan di dominasi oleh rawa-rawa serta dilewati sungai kecil. Keluarganya membeli tanah ini sekitar tahun 70an, pada saat itu lingkungan sekitar masih sepi dan banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon besar sedangkan di depan rumah Adit terdapat sungai kecil selebar kurang lebih 2 meter. Di belakang rumah Adit ada beberapa kolam kecil yang berisi bermacam-macam jenis ikan air tawar, karena saking banyaknya ikan di kolam itu, nenek Adit bercerita bahwa kita bisa menangkapnya hanya dengan mengaisnya dengan menggunakan ember. Kemudian di lingkungan sekitar rumah Adit itu pada zaman dulu masih banyak binatang-binatang liar seperti berang-berang, musang bahkan burung-burung liar yang banyak berterbangan di atas langit. Dari rentang antara tahun 70-90 an, banyak perubahan yang terjadi seiring dengan semakin meningkatnya populasi penduduk di lingkungan tempat tinggal Adit. Rawa-rawa yang dulu merupakan berisi ikan, burung, musang dan berang-berang kini sudah berganti menjadi sebuah komplek perumahan. Efek yang dirasakan saat ini pun sangat terasa, dimana jika ingin menangkap ikan dengan beragam jenis seperti dulu kini sudah tidak bisa lagi. Sungai di depan rumah Adit pun sudah tidak mengalir dan ukurannya sudah diperkecil untuk pelebaran jalan, pohon-pohon disekitar rumahnya juga sudah banyak yang ditebangi.

Perubahan-perubahan yang terjadi dilingkungan rumah Adit tersebut mungkin bisa menjadi contoh kecil dari perubahan global yang terjadi diseluruh dunia. Dan jika dilihat dari rentang waktu dari tahun 70an dari pertama keluarga Adit tinggal disana hingga sekarang, telah terjadi banyak perubahan yang cukup signifikan. Dalam beberapa tahun terakhir, Adit menyadari bahwa sudah ada potensi bahaya yang diakibatkan oleh pemanasan global dan perubahan lingkungan di tempat tinggalnya. Hal itu diakibatkan oleh aktivitas manusia yang mulai merubah lingkungan yang asri menjadi sebuah komplek perumahan. Daerah lingkungan rumah Adit pun menjadi tempat pemukiman yang padat penduduk dan juga mulai rusak lingkungannya yang dimana di jalanan daerah tersebut sering terjadi macet akibat kendaraan, dibangunnya kantor-kantor kecil untuk usaha serta kurang pedulinya warga sekitar untuk menjaga kebersihan lingkungan tersebut. Setiap hari Adit dan orang-orang disekitarnya dihadapkan dengan masalah lingkungan, seperti polusi udara, sampah dan masih banyak lagi. Adit sendiri yang sejak kecil sudah diajari oleh keluarganya untuk mencintai lingkungan, sangat tergerak hatinya untuk mencari solusi bagi masalah ini. Adit ingin bergerak aktif untuk ikut serta dalam menjaga bumi.

Adit sendiri merasa sangat berbeda dengan udara di hirupnya dalam beberapa tahun terakhir ini. Sejak daerah rumahnya menjadi sebuah komplek perumahan dan banyak juga gedung-gedung kantor. Tingkat kendaraan bermotor penghasil polusi juga turut meningkat. Adit sendiri tidak tahan dengan asap kendaraan bermotor karena bikin sesak napas dan mata perih. Adit yang sekarang bekerja di pusat kota Medan mau tidak mau harus pergi melewati jalan yang macet tersebut. kadang-kadang ia melihat indikator polusi udara yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Adit mencoba mengajak warga sekitar untuk dapat lebih peduli dengan lingkungannya. Awalnya Adit melakukan sosialisasi tentang dampak buruk yang dihasilkan dari polusi udara. Lama-kelamaan, para warga setempat pun mulai setuju dengan apa yang telah Adit suarakan. Mereka merasa, kenyamanan saat beraktivitas di ruangan terbuka mulai terganggu dan mengancam kesehatan akibat polusi ini seperti sesak napas, asma batuk dan lain-lain. 

Adit pun mulai mengkampanyekan kepada warga untuk lebih peduli terhadap lingkungan, dan bisa dimulai dari lingkungan tempat tinggal masing-masing. Peran dari warga sekitar pun amat penting, karena kualitas udara yang mereka hirup sangat bergantung pada pilihan gaya hidup mereka setiap hari. Selain itu, Adit juga mengajak warga untuk beralih ke Renewable Energy. Banyak potensi yang dapat digali dari Renewable Energy ini, selain bisa menghemat energi juga tentunya ramah lingkungan. Adit mengatakan bahwa sumber-sumber Renewable Energy ini bisa di dapat dari alam seperti sinar matahari, air, angin dan bahkan dari limbah yang berasal dari lingkungan kita. Dengan pengelolaan yang baik, maka kedepannya sumber energi dari alam ini akan bisa menjadi sumber energi alternatif untuk kehidupan dan efeknya pun akan sangat besar untuk kelestarian alam juga.

Semoga kisah diatas bisa menginspirasi anda dan jika memang anda mulai peduli tentang dampaknya nanti, mungkin beralih ke sumber Renewable Energy bisa menjadi pilihan. Seperti REEF aplikasi financing berbasis Blockchain dan bekerjasama dengan perusahaan JSKY sebagai produsen Solar Panel yang hadir untuk memberi solusi bagi terciptanya kelestarian lingkungan dengan Solar Panel. REEF berkomitmen untuk menghasilkan energi bersih dan juga menginspirasi masyarakat untuk segera beralih ke Renewable Energy serta menjaga kelestarian lingkungan. Ingin tahu lebih lanjut? Langsung saja klik www.reef.id untuk informasi selengkapnya.

Posted on

Penerapan Energi Surya Bisa Dimulai dalam Lingkup Sekolah

Penerapan Energi Surya Bisa Dimulai Dalam Lingkup Sekolah

Listrik yang menggunakan energi surya merupakan Renewable Energy yang penggunaannya sekarang ini mulai didorong oleh pemerintah. Selain ramah lingkungan, listrik bertenaga surya juga bermanfaat untuk menurunkan jumlah tagihan listrik PLN. Namun sayangnya, minat masyarakat akan penggunaan listrik bertenaga surya tersebut masih sangat rendah. Hal ini terlihat dari survei yang dilakukan terhadap 500 orang dari kalangan menengah ke atas di wilayah Jabodetabek. Sebanyak 30% menyatakan tertarik ingin membeli namun sisanya tidak mau membeli karena harganya yang masih relatif mahal dan pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan listrik tenaga surya tersebut masih rendah.

Seperti kisah Bu Rahma, Bu Rahma adalah seorang ibu rumah tangga yang bekerja sendirian dirumah, sementara suaminya sering bertugas di luar kota. Ia memiliki 2 orang anak yang masih sekolah. Untuk memenuhi kebutuhan serta membiayai sekolah anak-anaknya, ia membuka usaha warung kelontong di depan rumahnya. Seringkali teman-teman Bu Rahma berkumpul ke warung Bu Rahma selain untuk berbelanja, juga untuk berbagi informasi mengenai rumah tangga mereka. Hari ini beredar informasi jika tarif listrik yang akan naik di bulan depan dan ini berpengaruh pada bisnisnya Bu Fani yang merupakan teman Bu Rahma. Bu Fani memiliki usaha minuman dingin, tidak terlalu besar namun membutuhkan banyak listrik untuk menjalankan usahanya. Ibu-ibu lain pun mulai mendiskusikan jika benar adanya kenaikan tagihan PLN bagaimana dengan nasib mereka, pastinya akan lebih sulit lagi pengeluaran mereka karena harus menambah pembayaran listrik.

Bu Rahma terlihat sedikit panik dan mulai menyusun kembali pengeluarannya agar tetap stabil namun tetap saja ada kendala lain yaitu pihak sekolah tempat anak-anaknya bersekolah akan menaikkan biaya dan tentunya akan berpengaruh pada keuangan mereka, yang sekarang saja sudah kurang. Bu Rahma mendiskusikan hal ini dengan suaminya, ia menanyakan apakah dirinya tetap membuka warung saja untuk mengurangi beban suaminya dan suaminya pun setuju dengan keputusan tersebut. Dengan kegigihan setiap harinya Bu Rahma terus berjualan di warungnya, karena semakin banyak pelanggan yang membeli kebutuhan sehari-hari di warung Bu Rahma. Bu Rahma memiliki satu pelanggan yang selalu membeli bahan-bahan memasak di warungnya, yaitu seorang pemuda yang kebetulan kost di daerah situ dan ia berkuliah di jurusan teknik di salah satu universitas yang tak jauh dari wilayah kampung Bu Rahma. Suatu hari Bu Rahma bercerita mengenai tarif listrik yang naik yang membuatnya harus ikut bekerja membantu keuangan keluarganya, Tommy si pemuda yang menjadi pelanggan Bu Rahma tertarik dengan cerita tersebut, Tommy sendiri memang sedang melakukan riset mengenai Solar Panel menjadi terinspirasi untuk membantu Bu Rahma. 

Bu Rahma pun mengajak ibu-ibu di kampung untuk berkumpul dan Tommy menjelaskan riset yang sedang dilakukannya. Tommy nampak bersemangat membagi ceritanya dengan ibu-ibu dikampung tersebut. Namun adanya kendala dalam penggunaan Solar Panel yang Tommy ceritakan yaitu biaya yang sangat mahal dan lantas ibu-ibu di kampung tersebut pun menolak ide Tommy ini. Entah mengapa Bu Rahma sangat yakin dengan penggunaan Solar Panel ini, meskipun ia tidak terlalu paham dengan cara penggunaannya namun ia merasa pasti akan besar efeknya dikemudian hari. Bu Rahma pun meminta penjelasan lebih jelas kepada Tommy agar ia dapat meyakinkan ibu-ibu dikampungnya. Beberapa hari kemudian, Tommy menelpon Bu Rahma, ia mendapatkan kabar bahagia terdapat perusahaan yang menjual Solar Panel dengan cara cicilan bertahap. Perusahaan ini bernama JSKY dan bekerjasama dengan aplikasi financing bernama REEF, aplikasi berbasis Blockchain ini dapat memudahkan konsumen untuk mendapatkan Solar Panel dengan cicilan bertahap. Bu Rahma mulai mengeluarkan buku dan kalkulatornya dan menghitung berapa banyak yang dibutuhkan jika ibu-ibu setuju ikut patungan membeli Solar Panel ini yang dapat digunakan secara bersama-sama.

Bu Rahma akhirnya dengan berani menjelaskan informasi terbarunya dengan jelas dan para ibu-ibu mendengarkan dengan seksama walaupun sedikit ragu namun mereka percaya dengan Bu Rahma. Bu Rahma pun juga mengajak agar para ibu-ibu bekerja lebih giat lagi agar hasilnya dapat digunakan untuk menutupi biaya tersebut. Bu Fani ternyata sangat tertarik dengan Solar Panel ini dan tentu saja ia membutuhkan listrik sangat banyak terutama di siang hari, maka dengan Solar Panel ini akan sangat membantunya. Bu Fani pun menjadi orang pertama dikampung yang memasang Solar Panel dan lama kelamaan warga tampak tertarik setelah Bu Fani memasang Solar Panel ini di usaha minuman dinginnya. Sebulan berlalu Bu Fani dengan sumringah datang ke warung Bu Rahma, Bu Fani sangat berterimakasih dengan Bu Rahma yang mengenalkan Tommy dan REEF kepada mereka, ternyata bulan ini tagihan listrik Bu Fani lebih hemat 50 ribu dari tagihan sebelumnya. REEF adalah perusahaan yang dikenalkan Tommy, yang menjual Solar Panel yang dapat dibayar dengan cicilan. 

Berkat memakai Solar Panel tersebut, tagihan listrik mereka menjadi lebih normal. Bu Rahma pun merasa hidupnya kembali normal, bahkan setelah kenaikan biaya sekolah anak-anak mereka tidak mempengaruhi keuangan keluarga mereka kembali. Memang benar sinar matahari memberikan efek positif, selain dapat membantu dalam membuat pakaian kering dan bisa juga untuk meringankan tagihan listrik. 

Berdasarkan kisah yang dialami Bu Rahma, untuk itu REEF hadir sebagai solusi dalam mempermudah anda memperoleh Solar Panel. Dengan mengubah gaya hidup anda dan beralih ke Solar Panel, anda minimal sudah menyelamatkan keluarga anda dan turut membantu dalam kelestarian lingkungan. Tentunya dengan misi menjangkau seluruh masyarakat Indonesia untuk beralih ke energi terbarukan. Yuk mulai beralih dan pasang Solar Panel ini melalui REEF! Ingin tahu lebih banyak, langsung saja klik www.reef.id untuk informasi selengkapnya.

Posted on

Polusi Hilang Dengan Solar Panel

Polusi Hilang dengan Solar Panel

Hampir setiap hari Joni harus beraktivitas dengan menggunakan masker yang menutupi hidungnya, baik saat berangkat sekolah, pulang sekolah maupun bepergian kemana pun. Dia pun sebenarnya tidak mengetahui mengapa dirinya harus menggunakan masker setiap hari pada saat berpergian, namun ia teringat akan pesan dari ibunya. Ibunya selalu berpesan kepada Joni bahwa ia harus memakai masker itu dan harus selalu menempel menutupi hidungnya saat dia berangkat ke sekolah sampai tiba di sekolah. Begitu pun saat Joni pulang dari sekolah dan tiba kembali ke rumah, Joni sendiri baru melepasnya saat tiba di rumah. Joni yang berusia 14 tahun dan baru duduk di bangku sekolah menengah pertama atau SMP yang terletak tidak begitu jauh dari rumahnya, jarak antara rumah ke sekolahnya hanya sekitar 500 meter saja dan ia berjalan kaki setiap hari dari rumahnya sampai ke sekolah dan memakai masker tersebut menjadi kebiasaan sehari-hari dan masker ini pun selalu menjadi teman perjalanannya.

Setiap malam pun ibunya selalu berpesan kepada Joni bahwa masker untuk besok sudah ibunya siapkan di meja kamarnya, Ibu Joni selalu berpesan seperti ini kepada anaknya setiap selesai makan malam. Joni pun mulai bertanya kepada ibunya, “Ibu, kenapa sih setiap hari Joni harus pakai masker ini, kan maskernya bikin panas bu. Joni jadi tidak nyaman. Teman-teman Joni saja jarang ada yang menggunakan masker kalau pergi ke sekolah.” Tanpa basa basi, ibu Joni pun menjawab pertanyaan anaknya tersebut, “Jadi begini Jon, memakai masker ini mungkin memang tidak nyaman untuk kamu pakai, tetapi minimal kamu jadi bisa mengurangi masuknya udara yang kotor ke pernafasanmu. Jika banyak udara kotor yang masuk ke pernafasanmu, nanti kamu bisa terjangkit penyakit dan kamu tidak bisa masuk ke sekolah.” Ibu Joni pun memberikan penjelasan kepada Joni yang semakin terlihat penasaran.

“Mengapa udara kita bisa kotor bu?” Joni kecil tampaknya masih saja penasaran. “Udara yang kotor itu penyebabnya banyak sekali Jon, nanti jika kamu sudah besar dan beranjak dewasa pasti kamu akan tahu apa saja penyebab udara kita bisa kotor, tetapi ibu akan berikan contoh sederhana supaya kamu paham. Kamu kalau dalam perjalanan pasti sering melihat mobil atau motor yang mengeluarkan asap hitam kan? Nah, itu menjadi salah satu penyebab yang membuat udara kita menjadi kotor, belum lagi ada orang-orang di pinggir jalan yang merokok hal itu menyebabkan udara menjadi kotor juga” kata Ibu Joni yang memberi penjelasan kepada Joni. Karena mendapat jawaban seperti itu Joni hanya bisa mengangguk, lalu kemudian ia diam. Dalam hati kecilnya ia bertanya tanya apakah udara di kotanya saat ini memang kotor dan apakah masker memang sangat dibutuhkan dan berguna dalam mengurangi efek dari udara kotor untuk masuk ke pernafasannya.

Ketika di sekolah pun Joni mencoba menjawab rasa penasarannya dengan bertanya kepada gurunya, ia pun bertanya apakah udara kotor bisa berbahaya bagi pernafasan. Joni juga bertanya apa saja efek yang ditimbulkan jika terkena udara kotor secara terus menerus. Rasa penasaran yang masih mengganjal di hatinya setelah berdiskusi dengan ibunya pun satu persatu ia tanyakan kepada gurunya. Guru Joni di sekolah pun menjawabnya dengan jelas dan rinci sehingga membuat Joni mengerti dan paham tentang efek buruk dari udara kotor. Gurunya pun menjelaskan ada berbagai jenis polutan di udara yang kita hirup setiap harinya. Mulai dari karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NOx) hingga logam berat. Semua polutan tersebut memiliki komposisi kimia, sifat reaksi dan kecepatan yang berbeda untuk menyebar dalam jarak tertentu. Tidak hanya berdampak buruk bagi organ pernapasan, paparan udara yang kotor dalam waktu lama juga berdampak negatif bagi tubuh

Contoh-contoh efek dari udara kotor tersebut adalah yang pertama meningkatkan risiko autisme yang dimana ibu hamil yang tinggal di area dengan udara kotor berpotensi dua kali lebih besar memiliki bayi autisme. Lalu kulit cepat keriput, ada banyak data penelitian, negara dengan tingkat polusi yang tinggi dapat menyebabkan adanya pigmentasi dan penuaan pada kulit. Singkatnya, orang-orang yang tinggal di kota berpolusi terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Udara kotor juga bisa memicu sakit kepala, adanya peningkatkan angka berobat di rumah sakit untuk gangguan migrain dan sakit kepala sering terjadi saat kadar polusi udara meningkat. Yang terakhir adalah gangguan paru, hal ini tentu saja masuk akal. Polusi akan berdampak paling besar pada paru, partikel-partikel halus yang sangat kecil akan terhirup masuk ke paru dan bagi orang yang sudah memiliki masalah paru seperti asma atau penyakit paru terkait rokok efeknya akan lebih berat lagi jika menghirup udara berpolusi. Resiko terkena kanker juga dapat dikelompokkan sebagai akibat dari polusi udara terutama kanker paru. Setelah dijelaskan oleh gurunya, perlahan Joni pun mengerti tentang bahaya dari udara kotor yang masuk ke sistem pernafasannya dan selain polusi yang disebabkan oleh kendaraan bermotor maupun asap rokok, sisa pembakaran fosil yang dihasilkan oleh sumber energi juga menghasilkan karbon yang memberikan sumbangan pencemaran bagi udara kita. Dipastikan kualitas udara kita menurun drastis sehingga dalam jangka waktu panjang akan memberikan dampak negatif bagi kehidupan. 

Apakah anda ingin seperti Joni yang juga menjadi korban udara kotor yang sehari-hari kita hirup? Jika memang anda mulai peduli tentang dampaknya nanti, mungkin beralih ke sumber Renewable Energy bisa menjadi pilihan. Seperti REEF sebagai aplikasi financing berbasis Blockchain yang bekerjasama dengan JSKY selaku perusahaan produsen Solar Panel hadir untuk memberi solusi bagi terciptanya kelestarian lingkungan dengan Solar Panel yang menghasilkan energi bersih dan juga menginspirasi masyarakat untuk segera beralih ke Renewable Energy serta menjaga kelestarian lingkungan. Ingin tahu selengkapnya langsung saja klik www.reef.id untuk informasi selengkapnya.