Posted on

Membuat Udara Berkualitas, Tidak Lagi Terbatas

Membuat Udara Berkualitas Tidak Lagi Terbatas

Belakangan ini pola gaya hidup sehat di dalam masyarakat semakin sering dikembangkan. Untuk menciptakan generasi penerus yang sehat serta peduli lingkungan, macam-macam aktivitas bisa dilakukan dan sering juga kita jumpai beberapa kampanye yang menyuarakan tentang kelestarian lingkungan. Semua aktivitas ini berakar kepada satu masalah yang akhir-akhir ini menjadi topik hangat untuk diperbincangkan yaitu masalah polusi udara. Masalah polusi udara dan pemanasan global yang terjadi akhir-akhir ini menjadi momok menakutkan bagi masyarakat dan masalah ini pun menjadi alasan yang kuat mengapa saat ini beberapa orang atau aktivis mulai gencar dalam mengkampanyekan serta mempopulerkan gaya hidup yang sehat serta peduli dalam kelestarian lingkungan. 

Memulai kesadaran untuk melestarikan lingkungan tidaklah sulit dan dapat dimulai dari hal-hal kecil. Secara perlahan kesadaran ini pun mulai mencakup berbagai lapisan baik dari kalangan muda maupun tua, meskipun belum semuanya bisa menyadari mengapa kelestarian lingkungan itu penting bagi kelangsungan umat manusia. Dalam upaya pelestarian lingkungan pun, kita tidak bisa lepas dari yang namanya energi listrik. Energi listrik memang memegang peran yang penting dalam kehidupan manusia, karena dalam penggunaannya energi listrik bisa dikategorikan sebagai penggerak roda kehidupan saat ini. Tetapi yang mungkin masyarakat sekarang belum tahu adalah, edukasi tentang energi listrik yang sekarang digunakan masih menggunakan bahan bakar dari energi fosil yang menghasilkan limbah berupa emisi karbon dan hal itu lah yang nantinya memicu terjadinya polusi udara di lingkungan kita. 

Polusi udara yang dihasilkan baik dalam penggunaan energi listrik maupun asap dari pabrik dan kendaraan bermotor itu berupa kandungan karbon dioksida, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen oksida, serta partikel SPM yang dimana zat-zat polutan tersebut bisa berdampak buruk terhadap kesehatan manusia serta lingkungan sekitarnya. Seperti misalnya, gas karbon monoksida yang dapat menyebabkan kematian bagi orang yang menghirupnya, walaupun berdampak lama namun dalam beberapa kasus telah banyak orang yang meninggal akibat tertidur dalam mobil yang menyala sambil menyalakan AC dan membiarkan kaca mobilnya tertutup rapat. Gas polutan lain seperti karbon dioksida juga merupakan salah satu penyebab terjadinya global warming sedangkan sulfur dioksida dan nitrogen oksida merupakan polutan yang menjadi penyebab terjadinya hujan asam. Masyarakat sekitar juga dapat menderita beberapa penyakit akibat pencemaran udara, dan tak bisa dipungkiri bahwa polusi udara berpotensi membahayakan kesehatan. Namun, masih banyak orang yang menyepelekan bahaya polusi udara. Beberapa penyakit yang mungkin bisa terjadi di masyarakat akibat dari polusi udara tersebut antara lain penyakit Asma, Ispa, Paru-paru basah atau yang lebih parah lagi Jantung koroner akibat keracunan polusi udara. Sangat membahayakan bukan?

Mari kita ambil dari kisah Mira, seorang mahasiswi universitas terkenal di Jakarta. Mira sendiri berasal dari keluarga yang berkecukupan dan stabil dalam hal finansial, hal itu membuat Mira bisa mendapatkan berbagai macam hal yang ia mau termasuk energi listrik untuk ia pakai di dalam rumahnya. Seringkali ditemui saat siang atau pun malam, Mira senang sekali menggunakan alat-alat yang membutuhkan energi listrik seperti AC, TV, Radio dan lain-lain. Tak jarang juga jika ingin bepergian Mira membutuhkan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya setelah ia mandi. Di rumahnya pun lebih tepatnya di ruang keluarganya, AC nya pun selalu menyala setiap hari untuk mendinginkan ruang keluarganya. Tak heran aktivitas seperti itu yang dilakukan secara terus menerus lambat laun dapat menghasilkan polusi akibat pemakaian dari alat-alat yang menggunakan energi listrik tersebut. Sifat Mira dan keluarganya yang acuh dan seakan tidak peduli dengan dampak dari pencemaran lingkungan ini jika dilihat sangat memprihatinkan jika terjadi terus menerus tanpa ada yang mengedukasi mereka tentang bahaya dari energi listrik yang masih memakai pembakaran fosil ini.

Beberapa bulan kemudian pun, Mira tiba-tiba merasa sesak nafas dan langsung berkonsultasi dengan dokter langganannya. Disana ia mengeluhkan sakit serta sesak di area pernafasannya dan dokter pun langsung tau asal muasal penyakit sesak nafas yang diderita Mira ini. Ternyata berasal dari pencemaran udara yang diakibatkan oleh polusi. Setelah ditelusuri lebih lanjut, dampak dari pemakaian alat-alat bersumber energi listrik di rumah Mira ini lah jadi penyebabnya, karena masih memakai listrik dari pembakaran fosil maka akan menghasilkan limbah berupa emisi karbon dan berbahaya bagi sistem pernafasan. Dokter pun menyarankan serta mengedukasi Mira serta keluarganya untuk tidak lagi melakukan pola hidup sepeti itu, selain pemborosan juga berbahaya untuk lingkungan sekitar. Terlebih lagi, dokter pun menyarankan ke keluarga Mira untuk segera beralih ke sumber energi listrik terbarukan, selain lebih hemat dan tentunya bisa mengurangi dampak emisi gas karbon serta lebih ramah untuk lingkungan. Mengingat lingkungan rumah Mira merupakan daerah yang sering disinari oleh matahari, maka Solar Panel bisa dipakai sebagai sumber penghasil listrik alternatif untuk rumah Mira tersebut.

Solar Panel sendiri sebagai salah satu alat untuk menghasilkan Renewable Energy bisa jadi pilihan, mengingat sumber energi yang diterima oleh alat tersebut tak akan habis. Terlebih lagi negara Indonesia berada di garis khatulistiwa sehingga sepanjang tahun akan terus disinari oleh matahari sehingga Solar Panel sangat potensial untuk menjadi sumber energi baru yang dipasang di rumah anda. REEF aplikasi financing dengan sistem Blockchain hadir sebagai solusi untuk mempermudah masyarakat yang tak ingin terus menjadi korban emisi karbon di masa depan, bekerjasama dengan perusahaan JSKY sebagai produsen Solar Panel. Dengan mengubah gaya hidup dan beralih ke Solar Panel, anda minimal sudah berkontribusi untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Ingin tahu lebih banyak tentang REEF dan produk-produk ramah lingkungan lainnya langsung saja klik https://www.reef.id untuk informasi selengkapnya. 

 

Posted on

Potensi Dari Alam Untuk Alam

Potensi dari Alam untuk Alam

Jika kita bicara soal perubahan lingkungan memang kita tidak bisa terlepas dari adanya perubahan iklim dan cuaca. Dimana salah satu penyebab utama perubahan itu adalah kita sebagai manusia itu sendiri. Proses kerusakan alam ini telah terjadi sejak ratusan tahun lalu seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak bisa dipungkiri jika salah satu dampak negatif dari kemajuan ilmu dan teknologi adalah semakin rusaknya alam ini seperti penggundulan hutan, penambangan liar, polusi dari asap kendaraan bermotor, limbah pabrik dan sebagainya. Jika dulu orang menebang hutan hanya dengan kampak, sekarang sudah bisa menggunakan alat yang lebih canggih sehingga hutan seluas apapun di bumi ini bisa habis sekejap. Semua itu adalah sebagian dari contoh tentang penyebab dari perubahan lingkungan selama ini. Tapi apakah kita menyadari perubahan lingkungan yang terjadi di sekitar kita? Kisah berikut akan menggambarkan efek yang terjadi dari perubahan lingkungan serta solusi untuk menanggulanginya.

Adit dan sekeluarga tinggal di sebuah kampung dibagian kota Medan yang merupakan daerah dataran rendah dan di dominasi oleh rawa-rawa serta dilewati sungai kecil. Keluarganya membeli tanah ini sekitar tahun 70an, pada saat itu lingkungan sekitar masih sepi dan banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon besar sedangkan di depan rumah Adit terdapat sungai kecil selebar kurang lebih 2 meter. Di belakang rumah Adit ada beberapa kolam kecil yang berisi bermacam-macam jenis ikan air tawar, karena saking banyaknya ikan di kolam itu, nenek Adit bercerita bahwa kita bisa menangkapnya hanya dengan mengaisnya dengan menggunakan ember. Kemudian di lingkungan sekitar rumah Adit itu pada zaman dulu masih banyak binatang-binatang liar seperti berang-berang, musang bahkan burung-burung liar yang banyak berterbangan di atas langit. Dari rentang antara tahun 70-90 an, banyak perubahan yang terjadi seiring dengan semakin meningkatnya populasi penduduk di lingkungan tempat tinggal Adit. Rawa-rawa yang dulu merupakan berisi ikan, burung, musang dan berang-berang kini sudah berganti menjadi sebuah komplek perumahan. Efek yang dirasakan saat ini pun sangat terasa, dimana jika ingin menangkap ikan dengan beragam jenis seperti dulu kini sudah tidak bisa lagi. Sungai di depan rumah Adit pun sudah tidak mengalir dan ukurannya sudah diperkecil untuk pelebaran jalan, pohon-pohon disekitar rumahnya juga sudah banyak yang ditebangi.

Perubahan-perubahan yang terjadi dilingkungan rumah Adit tersebut mungkin bisa menjadi contoh kecil dari perubahan global yang terjadi diseluruh dunia. Dan jika dilihat dari rentang waktu dari tahun 70an dari pertama keluarga Adit tinggal disana hingga sekarang, telah terjadi banyak perubahan yang cukup signifikan. Dalam beberapa tahun terakhir, Adit menyadari bahwa sudah ada potensi bahaya yang diakibatkan oleh pemanasan global dan perubahan lingkungan di tempat tinggalnya. Hal itu diakibatkan oleh aktivitas manusia yang mulai merubah lingkungan yang asri menjadi sebuah komplek perumahan. Daerah lingkungan rumah Adit pun menjadi tempat pemukiman yang padat penduduk dan juga mulai rusak lingkungannya yang dimana di jalanan daerah tersebut sering terjadi macet akibat kendaraan, dibangunnya kantor-kantor kecil untuk usaha serta kurang pedulinya warga sekitar untuk menjaga kebersihan lingkungan tersebut. Setiap hari Adit dan orang-orang disekitarnya dihadapkan dengan masalah lingkungan, seperti polusi udara, sampah dan masih banyak lagi. Adit sendiri yang sejak kecil sudah diajari oleh keluarganya untuk mencintai lingkungan, sangat tergerak hatinya untuk mencari solusi bagi masalah ini. Adit ingin bergerak aktif untuk ikut serta dalam menjaga bumi.

Adit sendiri merasa sangat berbeda dengan udara di hirupnya dalam beberapa tahun terakhir ini. Sejak daerah rumahnya menjadi sebuah komplek perumahan dan banyak juga gedung-gedung kantor. Tingkat kendaraan bermotor penghasil polusi juga turut meningkat. Adit sendiri tidak tahan dengan asap kendaraan bermotor karena bikin sesak napas dan mata perih. Adit yang sekarang bekerja di pusat kota Medan mau tidak mau harus pergi melewati jalan yang macet tersebut. kadang-kadang ia melihat indikator polusi udara yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Adit mencoba mengajak warga sekitar untuk dapat lebih peduli dengan lingkungannya. Awalnya Adit melakukan sosialisasi tentang dampak buruk yang dihasilkan dari polusi udara. Lama-kelamaan, para warga setempat pun mulai setuju dengan apa yang telah Adit suarakan. Mereka merasa, kenyamanan saat beraktivitas di ruangan terbuka mulai terganggu dan mengancam kesehatan akibat polusi ini seperti sesak napas, asma batuk dan lain-lain. 

Adit pun mulai mengkampanyekan kepada warga untuk lebih peduli terhadap lingkungan, dan bisa dimulai dari lingkungan tempat tinggal masing-masing. Peran dari warga sekitar pun amat penting, karena kualitas udara yang mereka hirup sangat bergantung pada pilihan gaya hidup mereka setiap hari. Selain itu, Adit juga mengajak warga untuk beralih ke Renewable Energy. Banyak potensi yang dapat digali dari Renewable Energy ini, selain bisa menghemat energi juga tentunya ramah lingkungan. Adit mengatakan bahwa sumber-sumber Renewable Energy ini bisa di dapat dari alam seperti sinar matahari, air, angin dan bahkan dari limbah yang berasal dari lingkungan kita. Dengan pengelolaan yang baik, maka kedepannya sumber energi dari alam ini akan bisa menjadi sumber energi alternatif untuk kehidupan dan efeknya pun akan sangat besar untuk kelestarian alam juga.

Semoga kisah diatas bisa menginspirasi anda dan jika memang anda mulai peduli tentang dampaknya nanti, mungkin beralih ke sumber Renewable Energy bisa menjadi pilihan. Seperti REEF aplikasi financing berbasis Blockchain dan bekerjasama dengan perusahaan JSKY sebagai produsen Solar Panel yang hadir untuk memberi solusi bagi terciptanya kelestarian lingkungan dengan Solar Panel. REEF berkomitmen untuk menghasilkan energi bersih dan juga menginspirasi masyarakat untuk segera beralih ke Renewable Energy serta menjaga kelestarian lingkungan. Ingin tahu lebih lanjut? Langsung saja klik www.reef.id untuk informasi selengkapnya.

Posted on

Penerapan Energi Surya Bisa Dimulai dalam Lingkup Sekolah

Penerapan Energi Surya Bisa Dimulai Dalam Lingkup Sekolah

Listrik yang menggunakan energi surya merupakan Renewable Energy yang penggunaannya sekarang ini mulai didorong oleh pemerintah. Selain ramah lingkungan, listrik bertenaga surya juga bermanfaat untuk menurunkan jumlah tagihan listrik PLN. Namun sayangnya, minat masyarakat akan penggunaan listrik bertenaga surya tersebut masih sangat rendah. Hal ini terlihat dari survei yang dilakukan terhadap 500 orang dari kalangan menengah ke atas di wilayah Jabodetabek. Sebanyak 30% menyatakan tertarik ingin membeli namun sisanya tidak mau membeli karena harganya yang masih relatif mahal dan pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan listrik tenaga surya tersebut masih rendah.

Seperti kisah Bu Rahma, Bu Rahma adalah seorang ibu rumah tangga yang bekerja sendirian dirumah, sementara suaminya sering bertugas di luar kota. Ia memiliki 2 orang anak yang masih sekolah. Untuk memenuhi kebutuhan serta membiayai sekolah anak-anaknya, ia membuka usaha warung kelontong di depan rumahnya. Seringkali teman-teman Bu Rahma berkumpul ke warung Bu Rahma selain untuk berbelanja, juga untuk berbagi informasi mengenai rumah tangga mereka. Hari ini beredar informasi jika tarif listrik yang akan naik di bulan depan dan ini berpengaruh pada bisnisnya Bu Fani yang merupakan teman Bu Rahma. Bu Fani memiliki usaha minuman dingin, tidak terlalu besar namun membutuhkan banyak listrik untuk menjalankan usahanya. Ibu-ibu lain pun mulai mendiskusikan jika benar adanya kenaikan tagihan PLN bagaimana dengan nasib mereka, pastinya akan lebih sulit lagi pengeluaran mereka karena harus menambah pembayaran listrik.

Bu Rahma terlihat sedikit panik dan mulai menyusun kembali pengeluarannya agar tetap stabil namun tetap saja ada kendala lain yaitu pihak sekolah tempat anak-anaknya bersekolah akan menaikkan biaya dan tentunya akan berpengaruh pada keuangan mereka, yang sekarang saja sudah kurang. Bu Rahma mendiskusikan hal ini dengan suaminya, ia menanyakan apakah dirinya tetap membuka warung saja untuk mengurangi beban suaminya dan suaminya pun setuju dengan keputusan tersebut. Dengan kegigihan setiap harinya Bu Rahma terus berjualan di warungnya, karena semakin banyak pelanggan yang membeli kebutuhan sehari-hari di warung Bu Rahma. Bu Rahma memiliki satu pelanggan yang selalu membeli bahan-bahan memasak di warungnya, yaitu seorang pemuda yang kebetulan kost di daerah situ dan ia berkuliah di jurusan teknik di salah satu universitas yang tak jauh dari wilayah kampung Bu Rahma. Suatu hari Bu Rahma bercerita mengenai tarif listrik yang naik yang membuatnya harus ikut bekerja membantu keuangan keluarganya, Tommy si pemuda yang menjadi pelanggan Bu Rahma tertarik dengan cerita tersebut, Tommy sendiri memang sedang melakukan riset mengenai Solar Panel menjadi terinspirasi untuk membantu Bu Rahma. 

Bu Rahma pun mengajak ibu-ibu di kampung untuk berkumpul dan Tommy menjelaskan riset yang sedang dilakukannya. Tommy nampak bersemangat membagi ceritanya dengan ibu-ibu dikampung tersebut. Namun adanya kendala dalam penggunaan Solar Panel yang Tommy ceritakan yaitu biaya yang sangat mahal dan lantas ibu-ibu di kampung tersebut pun menolak ide Tommy ini. Entah mengapa Bu Rahma sangat yakin dengan penggunaan Solar Panel ini, meskipun ia tidak terlalu paham dengan cara penggunaannya namun ia merasa pasti akan besar efeknya dikemudian hari. Bu Rahma pun meminta penjelasan lebih jelas kepada Tommy agar ia dapat meyakinkan ibu-ibu dikampungnya. Beberapa hari kemudian, Tommy menelpon Bu Rahma, ia mendapatkan kabar bahagia terdapat perusahaan yang menjual Solar Panel dengan cara cicilan bertahap. Perusahaan ini bernama JSKY dan bekerjasama dengan aplikasi financing bernama REEF, aplikasi berbasis Blockchain ini dapat memudahkan konsumen untuk mendapatkan Solar Panel dengan cicilan bertahap. Bu Rahma mulai mengeluarkan buku dan kalkulatornya dan menghitung berapa banyak yang dibutuhkan jika ibu-ibu setuju ikut patungan membeli Solar Panel ini yang dapat digunakan secara bersama-sama.

Bu Rahma akhirnya dengan berani menjelaskan informasi terbarunya dengan jelas dan para ibu-ibu mendengarkan dengan seksama walaupun sedikit ragu namun mereka percaya dengan Bu Rahma. Bu Rahma pun juga mengajak agar para ibu-ibu bekerja lebih giat lagi agar hasilnya dapat digunakan untuk menutupi biaya tersebut. Bu Fani ternyata sangat tertarik dengan Solar Panel ini dan tentu saja ia membutuhkan listrik sangat banyak terutama di siang hari, maka dengan Solar Panel ini akan sangat membantunya. Bu Fani pun menjadi orang pertama dikampung yang memasang Solar Panel dan lama kelamaan warga tampak tertarik setelah Bu Fani memasang Solar Panel ini di usaha minuman dinginnya. Sebulan berlalu Bu Fani dengan sumringah datang ke warung Bu Rahma, Bu Fani sangat berterimakasih dengan Bu Rahma yang mengenalkan Tommy dan REEF kepada mereka, ternyata bulan ini tagihan listrik Bu Fani lebih hemat 50 ribu dari tagihan sebelumnya. REEF adalah perusahaan yang dikenalkan Tommy, yang menjual Solar Panel yang dapat dibayar dengan cicilan. 

Berkat memakai Solar Panel tersebut, tagihan listrik mereka menjadi lebih normal. Bu Rahma pun merasa hidupnya kembali normal, bahkan setelah kenaikan biaya sekolah anak-anak mereka tidak mempengaruhi keuangan keluarga mereka kembali. Memang benar sinar matahari memberikan efek positif, selain dapat membantu dalam membuat pakaian kering dan bisa juga untuk meringankan tagihan listrik. 

Berdasarkan kisah yang dialami Bu Rahma, untuk itu REEF hadir sebagai solusi dalam mempermudah anda memperoleh Solar Panel. Dengan mengubah gaya hidup anda dan beralih ke Solar Panel, anda minimal sudah menyelamatkan keluarga anda dan turut membantu dalam kelestarian lingkungan. Tentunya dengan misi menjangkau seluruh masyarakat Indonesia untuk beralih ke energi terbarukan. Yuk mulai beralih dan pasang Solar Panel ini melalui REEF! Ingin tahu lebih banyak, langsung saja klik www.reef.id untuk informasi selengkapnya.

Posted on

Polusi Hilang Dengan Solar Panel

Polusi Hilang dengan Solar Panel

Hampir setiap hari Joni harus beraktivitas dengan menggunakan masker yang menutupi hidungnya, baik saat berangkat sekolah, pulang sekolah maupun bepergian kemana pun. Dia pun sebenarnya tidak mengetahui mengapa dirinya harus menggunakan masker setiap hari pada saat berpergian, namun ia teringat akan pesan dari ibunya. Ibunya selalu berpesan kepada Joni bahwa ia harus memakai masker itu dan harus selalu menempel menutupi hidungnya saat dia berangkat ke sekolah sampai tiba di sekolah. Begitu pun saat Joni pulang dari sekolah dan tiba kembali ke rumah, Joni sendiri baru melepasnya saat tiba di rumah. Joni yang berusia 14 tahun dan baru duduk di bangku sekolah menengah pertama atau SMP yang terletak tidak begitu jauh dari rumahnya, jarak antara rumah ke sekolahnya hanya sekitar 500 meter saja dan ia berjalan kaki setiap hari dari rumahnya sampai ke sekolah dan memakai masker tersebut menjadi kebiasaan sehari-hari dan masker ini pun selalu menjadi teman perjalanannya.

Setiap malam pun ibunya selalu berpesan kepada Joni bahwa masker untuk besok sudah ibunya siapkan di meja kamarnya, Ibu Joni selalu berpesan seperti ini kepada anaknya setiap selesai makan malam. Joni pun mulai bertanya kepada ibunya, “Ibu, kenapa sih setiap hari Joni harus pakai masker ini, kan maskernya bikin panas bu. Joni jadi tidak nyaman. Teman-teman Joni saja jarang ada yang menggunakan masker kalau pergi ke sekolah.” Tanpa basa basi, ibu Joni pun menjawab pertanyaan anaknya tersebut, “Jadi begini Jon, memakai masker ini mungkin memang tidak nyaman untuk kamu pakai, tetapi minimal kamu jadi bisa mengurangi masuknya udara yang kotor ke pernafasanmu. Jika banyak udara kotor yang masuk ke pernafasanmu, nanti kamu bisa terjangkit penyakit dan kamu tidak bisa masuk ke sekolah.” Ibu Joni pun memberikan penjelasan kepada Joni yang semakin terlihat penasaran.

“Mengapa udara kita bisa kotor bu?” Joni kecil tampaknya masih saja penasaran. “Udara yang kotor itu penyebabnya banyak sekali Jon, nanti jika kamu sudah besar dan beranjak dewasa pasti kamu akan tahu apa saja penyebab udara kita bisa kotor, tetapi ibu akan berikan contoh sederhana supaya kamu paham. Kamu kalau dalam perjalanan pasti sering melihat mobil atau motor yang mengeluarkan asap hitam kan? Nah, itu menjadi salah satu penyebab yang membuat udara kita menjadi kotor, belum lagi ada orang-orang di pinggir jalan yang merokok hal itu menyebabkan udara menjadi kotor juga” kata Ibu Joni yang memberi penjelasan kepada Joni. Karena mendapat jawaban seperti itu Joni hanya bisa mengangguk, lalu kemudian ia diam. Dalam hati kecilnya ia bertanya tanya apakah udara di kotanya saat ini memang kotor dan apakah masker memang sangat dibutuhkan dan berguna dalam mengurangi efek dari udara kotor untuk masuk ke pernafasannya.

Ketika di sekolah pun Joni mencoba menjawab rasa penasarannya dengan bertanya kepada gurunya, ia pun bertanya apakah udara kotor bisa berbahaya bagi pernafasan. Joni juga bertanya apa saja efek yang ditimbulkan jika terkena udara kotor secara terus menerus. Rasa penasaran yang masih mengganjal di hatinya setelah berdiskusi dengan ibunya pun satu persatu ia tanyakan kepada gurunya. Guru Joni di sekolah pun menjawabnya dengan jelas dan rinci sehingga membuat Joni mengerti dan paham tentang efek buruk dari udara kotor. Gurunya pun menjelaskan ada berbagai jenis polutan di udara yang kita hirup setiap harinya. Mulai dari karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NOx) hingga logam berat. Semua polutan tersebut memiliki komposisi kimia, sifat reaksi dan kecepatan yang berbeda untuk menyebar dalam jarak tertentu. Tidak hanya berdampak buruk bagi organ pernapasan, paparan udara yang kotor dalam waktu lama juga berdampak negatif bagi tubuh

Contoh-contoh efek dari udara kotor tersebut adalah yang pertama meningkatkan risiko autisme yang dimana ibu hamil yang tinggal di area dengan udara kotor berpotensi dua kali lebih besar memiliki bayi autisme. Lalu kulit cepat keriput, ada banyak data penelitian, negara dengan tingkat polusi yang tinggi dapat menyebabkan adanya pigmentasi dan penuaan pada kulit. Singkatnya, orang-orang yang tinggal di kota berpolusi terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Udara kotor juga bisa memicu sakit kepala, adanya peningkatkan angka berobat di rumah sakit untuk gangguan migrain dan sakit kepala sering terjadi saat kadar polusi udara meningkat. Yang terakhir adalah gangguan paru, hal ini tentu saja masuk akal. Polusi akan berdampak paling besar pada paru, partikel-partikel halus yang sangat kecil akan terhirup masuk ke paru dan bagi orang yang sudah memiliki masalah paru seperti asma atau penyakit paru terkait rokok efeknya akan lebih berat lagi jika menghirup udara berpolusi. Resiko terkena kanker juga dapat dikelompokkan sebagai akibat dari polusi udara terutama kanker paru. Setelah dijelaskan oleh gurunya, perlahan Joni pun mengerti tentang bahaya dari udara kotor yang masuk ke sistem pernafasannya dan selain polusi yang disebabkan oleh kendaraan bermotor maupun asap rokok, sisa pembakaran fosil yang dihasilkan oleh sumber energi juga menghasilkan karbon yang memberikan sumbangan pencemaran bagi udara kita. Dipastikan kualitas udara kita menurun drastis sehingga dalam jangka waktu panjang akan memberikan dampak negatif bagi kehidupan. 

Apakah anda ingin seperti Joni yang juga menjadi korban udara kotor yang sehari-hari kita hirup? Jika memang anda mulai peduli tentang dampaknya nanti, mungkin beralih ke sumber Renewable Energy bisa menjadi pilihan. Seperti REEF sebagai aplikasi financing berbasis Blockchain yang bekerjasama dengan JSKY selaku perusahaan produsen Solar Panel hadir untuk memberi solusi bagi terciptanya kelestarian lingkungan dengan Solar Panel yang menghasilkan energi bersih dan juga menginspirasi masyarakat untuk segera beralih ke Renewable Energy serta menjaga kelestarian lingkungan. Ingin tahu selengkapnya langsung saja klik www.reef.id untuk informasi selengkapnya.

 

Posted on

Solar Panel Untuk Solusi Hemat Listrik

Solar Panel untuk Solusi Hemat Listrik

Listrik yang menggunakan energi surya merupakan Renewable Energy yang penggunaannya sekarang ini mulai didorong oleh pemerintah. Selain ramah lingkungan, listrik bertenaga surya juga bermanfaat untuk menurunkan jumlah tagihan listrik PLN. Namun sayangnya, minat masyarakat akan penggunaan listrik bertenaga surya tersebut masih sangat rendah. Hal ini terlihat dari survei yang dilakukan terhadap 500 orang dari kalangan menengah ke atas di wilayah Jabodetabek. Sebanyak 30% menyatakan tertarik ingin membeli namun sisanya tidak mau membeli karena harganya yang masih relatif mahal dan pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan listrik tenaga surya tersebut masih rendah.

Seperti kisah Bu Rahma, Bu Rahma adalah seorang ibu rumah tangga yang bekerja sendirian dirumah, sementara suaminya sering bertugas di luar kota. Ia memiliki 2 orang anak yang masih sekolah. Untuk memenuhi kebutuhan serta membiayai sekolah anak-anaknya, ia membuka usaha warung kelontong di depan rumahnya. Seringkali teman-teman Bu Rahma berkumpul ke warung Bu Rahma selain untuk berbelanja, juga untuk berbagi informasi mengenai rumah tangga mereka. Hari ini beredar informasi jika tarif listrik yang akan naik di bulan depan dan ini berpengaruh pada bisnisnya Bu Fani yang merupakan teman Bu Rahma. Bu Fani memiliki usaha minuman dingin, tidak terlalu besar namun membutuhkan banyak listrik untuk menjalankan usahanya. Ibu-ibu lain pun mulai mendiskusikan jika benar adanya kenaikan tagihan PLN bagaimana dengan nasib mereka, pastinya akan lebih sulit lagi pengeluaran mereka karena harus menambah pembayaran listrik.

Bu Rahma terlihat sedikit panik dan mulai menyusun kembali pengeluarannya agar tetap stabil namun tetap saja ada kendala lain yaitu pihak sekolah tempat anak-anaknya bersekolah akan menaikkan biaya dan tentunya akan berpengaruh pada keuangan mereka, yang sekarang saja sudah kurang. Bu Rahma mendiskusikan hal ini dengan suaminya, ia menanyakan apakah dirinya tetap membuka warung saja untuk mengurangi beban suaminya dan suaminya pun setuju dengan keputusan tersebut. Dengan kegigihan setiap harinya Bu Rahma terus berjualan di warungnya, karena semakin banyak pelanggan yang membeli kebutuhan sehari-hari di warung Bu Rahma. Bu Rahma memiliki satu pelanggan yang selalu membeli bahan-bahan memasak di warungnya, yaitu seorang pemuda yang kebetulan kost di daerah situ dan ia berkuliah di jurusan teknik di salah satu universitas yang tak jauh dari wilayah kampung Bu Rahma. Suatu hari Bu Rahma bercerita mengenai tarif listrik yang naik yang membuatnya harus ikut bekerja membantu keuangan keluarganya, Tommy si pemuda yang menjadi pelanggan Bu Rahma tertarik dengan cerita tersebut, Tommy sendiri memang sedang melakukan riset mengenai Solar Panel menjadi terinspirasi untuk membantu Bu Rahma. 

Bu Rahma pun mengajak ibu-ibu di kampung untuk berkumpul dan Tommy menjelaskan riset yang sedang dilakukannya. Tommy nampak bersemangat membagi ceritanya dengan ibu-ibu dikampung tersebut. Namun adanya kendala dalam penggunaan Solar Panel yang Tommy ceritakan yaitu biaya yang sangat mahal dan lantas ibu-ibu di kampung tersebut pun menolak ide Tommy ini. Entah mengapa Bu Rahma sangat yakin dengan penggunaan Solar Panel ini, meskipun ia tidak terlalu paham dengan cara penggunaannya namun ia merasa pasti akan besar efeknya dikemudian hari. Bu Rahma pun meminta penjelasan lebih jelas kepada Tommy agar ia dapat meyakinkan ibu-ibu dikampungnya. Beberapa hari kemudian, Tommy menelpon Bu Rahma, ia mendapatkan kabar bahagia terdapat perusahaan yang menjual Solar Panel dengan cara cicilan bertahap. Perusahaan ini bernama JSKY dan bekerjasama dengan aplikasi financing bernama REEF, aplikasi berbasis Blockchain ini dapat memudahkan konsumen untuk mendapatkan Solar Panel dengan cicilan bertahap. Bu Rahma mulai mengeluarkan buku dan kalkulatornya dan menghitung berapa banyak yang dibutuhkan jika ibu-ibu setuju ikut patungan membeli Solar Panel ini yang dapat digunakan secara bersama-sama.

Bu Rahma akhirnya dengan berani menjelaskan informasi terbarunya dengan jelas dan para ibu-ibu mendengarkan dengan seksama walaupun sedikit ragu namun mereka percaya dengan Bu Rahma. Bu Rahma pun juga mengajak agar para ibu-ibu bekerja lebih giat lagi agar hasilnya dapat digunakan untuk menutupi biaya tersebut. Bu Fani ternyata sangat tertarik dengan Solar Panel ini dan tentu saja ia membutuhkan listrik sangat banyak terutama di siang hari, maka dengan Solar Panel ini akan sangat membantunya. Bu Fani pun menjadi orang pertama dikampung yang memasang Solar Panel dan lama kelamaan warga tampak tertarik setelah Bu Fani memasang Solar Panel ini di usaha minuman dinginnya. Sebulan berlalu Bu Fani dengan sumringah datang ke warung Bu Rahma, Bu Fani sangat berterimakasih dengan Bu Rahma yang mengenalkan Tommy dan REEF kepada mereka, ternyata bulan ini tagihan listrik Bu Fani lebih hemat 50 ribu dari tagihan sebelumnya. REEF adalah perusahaan yang dikenalkan Tommy, yang menjual Solar Panel yang dapat dibayar dengan cicilan. 

Berkat memakai Solar Panel tersebut, tagihan listrik mereka menjadi lebih normal. Bu Rahma pun merasa hidupnya kembali normal, bahkan setelah kenaikan biaya sekolah anak-anak mereka tidak mempengaruhi keuangan keluarga mereka kembali. Memang benar sinar matahari memberikan efek positif, selain dapat membantu dalam membuat pakaian kering dan bisa juga untuk meringankan tagihan listrik. 

Berdasarkan kisah yang dialami Bu Rahma, untuk itu REEF hadir sebagai solusi dalam mempermudah anda memperoleh Solar Panel. Dengan mengubah gaya hidup anda dan beralih ke Solar Panel, anda minimal sudah menyelamatkan keluarga anda dan turut membantu dalam kelestarian lingkungan. Tentunya dengan misi menjangkau seluruh masyarakat Indonesia untuk beralih ke energi terbarukan. Yuk mulai beralih dan pasang Solar Panel ini melalui REEF! Ingin tahu lebih banyak, langsung saja klik www.reef.id untuk informasi selengkapnya.

 

Posted on

Listrik Padam Petaka Datang

Listrik Padam Petaka Datang

Aryo berusaha untuk memindahkan berbagai macam ikannya ke bak yang sudah diisi air baru, dan dia berusaha untuk membuat aerator buatan semampunya. Hal ini dilakukan karena pemadaman listrik di rumahnya yang tak kunjung menyala dan tidak ada titik terang sampai kapan hal ini terjadi. Aryo merupakan pengusaha ikan hias yang  sudah cukup populer dikalangan pecinta ikan hias, bisnis ini sudah digeluti oleh Aryo sejak dua belas tahun lamanya, kecintaannya terhadap ikan hias yang menjadi faktor pendorong baginya untuk membuka usaha yang kini sedang dia geluti. Dia menganut prinsip menjalankan hobi yang bisa menciptakan uang.

Selain memelihara ikan hias Aryo juga memelihara maggot atau ulat untuk pakanan ikannya, hari ini merupakan hari yang buruk baginya karena tiba-tiba listrik di tempat usahanya mati. Awalnya Aryo tidak begitu tegang dan masih santai saja dengan pemadaman listrik ini, karena dia beranggapan bahwa hal itu sering terjadi dan tidak akan berlangsung lama. Tapi ketika Aryo menunggu hingga empat jam dia mulai gelisah dan mulai tertekan karena ikan-ikannya tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Dia berusaha menghuungi rekan-rekannya untuk menanyakan apakah ada yang mempunyai jetset untuk dipinjamkan kedirinya agar ikan-ikan miliknya tidak mati.

Hal yang dilakukan Aryo untuk menghubungi rekan sejawatnya sia-sia karena ternyata bukan hanya dirumahnya saja yang mengalami pemadaman listrik. Namun, di semua Jakarta pada saat itu terjadi pemadaman listrik. Bahkan sampai kebeberapa titik di pulau Jawa mengalami pemadaman listrik yang sama. Ini membuat Aryo kewalahan harus memindahkan semua ikan-ikan miliknya ke dalam wadah lain dan berusaha menyelamatkan ikan-ikan miliknya sebanyak-banyaknya.

Ketika Aryo berusaha untuk memindahkan ikan-ikan miliknya Aryo juga harus menerima kenyataan bahwa banyak juga ikan miliknya yang tidak dapat dia pertahankan, beberapa jenis ikan miliknya mati, bukan hanya ikan namun bibit bakal ikan juga banyak yang mati. Hal ini membuat Aryo mengalami kerugian yang cukup besar. Selain ikan-ikan dan bibit ikan yang mati maggot miliknya juga banyak yang tak terselamtkan karena tidak adanya penghangat suhu ruangan yang biasa dia gunakan dengan bertenaga listrik.

Dalam praktik kesehariannya listrik memang menjadi kunci utama dalam beberapa bidang usaha, misalnya saja seperti Aryo yang menggunakan listrik untuk menghidupkan aerator aquarium miliknya, hal ini digunakan agar ikan-ikan Aryo dapat menghirup oksigen dengan baik, sehingga membuat ikan-ikan tersebut hidup dan dapat mengeluarkan warna yang cantik, dan ini mempengaruhi harga pasaran dari ikan hias tersebut.

Dalam bisnisnya Aryo sangat bergantung kepada listrik, bagaimana tidak? Aerator, penjaga suhu, serta lampu LED yang digunakan oleh Aryo semuanya memerlukan energi listrik. Maka dari itu ketika terjadi pemadaman listrik yang cukup memakan waktu tentu saja Aryo mengalami kerugian yang besar, karena selain dapat membunuh ikan-ikan hias miliknya, hal lain yang cukup merugikan adalah ikan-ikan miliknya bisa saja tidak mengeluarkan warna yang dapat memikat para pecinta ikan hias, sebab jika ikan kekurangan oksigen warna dari sisik yang mereka punyai tidak akan keluar dengan sempurna atau cenderung berwarna pucat.

Bukan hanya bisnis perikanan saja yang mengalami kerugian yang besar, bisnis konveksi milik Raihan juga merugi beberapa Miliar lantaran pemadaman listrik yang tidak menggunakan pemberitahuan terlebih dahulu ini. Usaha konveksi rumahan milik Raihan sebenarnya sudah memiliki tenaga listrik cadangan berupa genset, namun genset juga tidak dapat lama digunakan,  karena akinya perlu dicharge juga. 

Kerugian yang dialami Raihan bisa jadi sangat membengkak karena konveksi miliknya 80% bertenaga listrik, dari mulai pengguntingan bahan, lalu penjahitan sehingga menjadi baju, dan lalu bordiran baju/sablonnya pun menggunakan tenaga listrik dalam pengerjaannya. Ini baru usaha-usaha kecil yang notabene adalah usaha rumahan, belum lagi usaha-usaha yang besar seperti pabrik, perkantoran dan lain sebagai macamnya. Mungkin mereka memiliki listrik cadangan namun listrik tersebut juga tidak dapat bertahan lama.

Banyak hal yang dapat merugi jika listrik padam, jika dari sektor bisnis ini dapat menyebabkan kerugian, lain lagi di bidang kesehatan, seperti halnya yang di lami Adi. Adi harus merelakan adiknya meninggal lantaran tidak dapat terselamatkan akibat peralatan dirumah sakit saat itu tidak dapat dioperasikan karena tidak adanya tenaga listrik, hal ini seharusnya tidak terjadi namun ketika kejadian ini genset rumah sakitpun telah mati lantaran banyak alat-alat yang bersangkutan dengan listrik. Ini benar-benar mimpi buruk bagi Adi, dia harus merelakan kepergian adiknya.

Ketika pemadaman listrik ini terjadi sinyal provider pun tidak bekerja dengan baik, karena beberapa hal tidak dapat diakses secara online. Pada saat sepeti ini banyak data yang dikelola secara online juga menjadi rawan untuk di curi atau dimanipulasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Kerugian bisnis, kehilangan nyawa, bahkan kehilangan sinyal dapat terjadi ketika pemadaman listrik menimpa, tentu saja ini menjadi mimpi buruk bagi orang-orang yang mengalami hal ini. Inilah yang terjadi jika gardu besar listrik tertimpa masalah. Jika masyarakat menggunakan panel surya untuk menangkap sinar matahari dan mengalihkannya menjadi tenaga listrik tentu hal ini dapat meminimalisir kemungkinan-kemungkinan terburuk seperti yang terjadi di beberapa cerita di atas. Memang untuk membeli panel surya sangatlah mahal tapi saat ini hal itu bukanlah menjadi sebuah momok, karena dengan menggunakan aplikasi REEF dapat memiliki panel surya dengan sistem cicilan, yang dibutuhkan oleh perusahaan atau bahkan untuk industri rumahan sekalipun. Mulai beralihlah ke Renewable Energy lewat solar panel berkualitas dari REEF, ingin tahu lebih lengkap? Silakan kunjungi https://reef.id

Posted on

Lebih Aware Dengan Polusi Udara

Lebih Aware dengan Polusi Udara

Di dalam sebuah tatanan kehidupan, lingkungan yang ditinggali oleh berbagai makhluk hidup seperti manusia, binatang serta tumbuhan semestinya mempunyai kondisi ruang yang asri, hijau dan penataan yang rapi terhadap pembangunan yang dilakukan oleh manusia. Sehingga ruang-ruang di lingkungan dapat ditinggali oleh semua lapisan makhluk hidup tanda ada gangguan ataupun keluhan. Tapi dengan maraknya pembangunan dan kemajuan teknologi seiring berkembangnya zaman oleh manusia terkadang dampaknya tidak hanya menghasilkan sesuatu yang positif tapi juga menghasilkan sesuatu yang negatif seperti dapat merusak lingkungan. Sebuah contoh paling sederhana ialah polusi udara yang dihasilkan dari berbagai kendaraan bermotor dan mobil, asap pabrik, dan pembakaran hutan. Sehingga ini perlu mendapatkan perhatian yang serius agar dapat segera dibenahi dan mampu untuk mengurangi tingkat polusi udara yang ada di lingkungan.

Saat ini Indonesia telah mengalami pembangunan besar-besaran yang dimana telah mampu memaksa masyarakatnya untuk mempunyai kendaraan baik roda dua dan roda empat sehingga kota-kota disesaki dengan berbagai jenis kendaraan yang lalu lalang. Jumlah kendaraan yang ada di Indonesia untuk saat ini sangat banyak dan setiap tahun dalam pertumbuhannya mengalami kenaikan. Jumlah kendaraan yang sangat besar tersebut sebagian besar ada di daerah perkotaan besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya, dan lainnya sehingga setiap unit kendaraan tersebut telah menghasilkan asap yang mengandung zat-zat yang dapat merusak lingkungan serta kesehatan masyarakat. Untuk kita sendiri sebagai manusia yang hidup dan terjebak di area lingkungan yang dipenuhi oleh asap kendaraan akan lebih rentan terkena penyakit berbahaya seperti stroke, asma, sakit mata, iritasi kulit dan lainnya.

Kita bisa lihat dari kisah Andi, seorang mahasiswa yang mengalami dampak dari polusi udara ini. Andi merupakan seorang mahasiswa yang berkuliah di sebuah universitas terkenal di Jakarta. Sembari mengisi kuliahnya, ia turut membantu usaha ibunya dalam membuka warung sembako di rumahnya. Setiap hari Andi berangkat ke kampusnya dengan berjalan kaki, karena jarak dari rumah ke kampusnya tidak begitu jauh. Beberapa tahun sebelumnya, jalanan yang biasa dilalui Andi dari rumah ke kampus masih sangat asri dan hijau karena ditumbuhi banyak pepohonan yang rimbun serta teduh. Andi pun sangat senang jika ingin berangkat kuliah karena selain menyehatkan dengan berjalan kaki, ia bisa sekaligus menghirup udara segar yang dihasilkan oleh pepohonan tersebut. Karena udara segar tersebutlah yang bisa membuat Andi dalam kondisi yang sehat serta fokus pada saat belajar di kampusnya.

Namun semuanya berubah dalam beberapa tahun terakhir, ada sebuah pihak developer gedung yang membangun gedung-gedung perkantoran di area jalan yang biasa Andi lalui jika ingin pergi kuliah. Dengan adanya gedung-gedung perkantoran tersebut, lama kelamaan jalan yang biasa Andi lalui untuk pergi kuliah mulai banyak dilalui oleh kendaraan bermotor. Gedung-gedung perkantoran tersebut rata-rata diisi oleh perusahaan-perusahaan besar yang mempunyai banyak karyawan, tidak heran dengan banyaknya karyawan tersebut membuat aktivitas di jalanan sekitar kantor tersebut menjadi padat dengan kendaraan bermotor karena para karyawan ini rata-rata membawa kendaraan roda dua maupun roda empat untuk pergi ke kantornya. Seiring banyaknya kendaraan tersebut, tidak diimbangi dengan jalan yang lebar membuat kemacetan pun tak dapat dihindari. Akibat dari hal ini seperti yang kita tahu bahwa asap dari kendaraan bermotor dapat menyebabkan polusi udara, semakin banyak kendaraannya maka polusi yang dihasilkan pun juga semakin banyak. Andi sendiri merasakan dampak negatifnya dari polusi tersebut, kini Andi harus melalui jalan untuk ke kampus tanpa bisa menghirup udara segar lagi karena pohon-pohon yang ada di jalan yang biasa dilaluinya sudah habis ditebang dan berganti dengan gedung-gedung bertingkat. Andi pun harus menghirup asap-asap dari kendaraan bermotor yang ada di jalan tersebut dan tanpa Andi sadari, banyak zat-zat karbon yang masuk ke sistem pernafasannya. 

Seiring berjalannya waktu, tiba-tiba saja Andi mengeluhkan sakit di dadanya. Ia merasa kesulitan untuk bernafas dan sering batuk-batuk. Ia pun segera bergegas untuk ke dokter dan berkonsultasi dengan dokter tersebut. Alhasil, informasi yang diterimanya adalah merupakan mimpi buruk bagi Andi. Akibat sering menghirup asap dari kendaraan, sistem pernafasan Andi mengalami gangguan dan mengharuskan Andi untuk memakai masker setiap hari demi menjaga sistem pernafasannya, Ia juga setiap minggu harus kontrol ke rumah sakit untuk mengecek sistem pernafasannya yang terkontaminasi zat karbon tersebut. Karena hal tersebut banyak kegiatan yang terlewatkan oleh Andi, kuliahnya pun jadi terganggu dan pengeluaran ibunya pun bertambah untuk pengobatan Andi. 

Kita bisa mencontoh dari kisah diatas tentang bahayanya dampak dari polusi udara sehingga kita bisa lebih peduli dan mulai bisa mencegah hal-hal tersebut terjadi. Kita bisa mulai dengan mengurangi pemakaian kendaraan bermotor, karena kendaraan bermotor menghasilkan asap yang berbahaya bagi udara. Kita juga dapat beralih ke sumber Renewable Energy, banyak sumber-sumber energi dari alam yang dapat kita manfaatkan untuk dapat menghasilkan listrik sebagai pengganti energi fosil tersebut. Salah satunya adalah menggunakan energi surya dengan perantara alat bernama Solar Panel.

Apakah anda ingin seperti Andi yang juga menjadi korban udara kotor yang sehari-hari kita hirup? Jika memang anda mulai peduli tentang dampaknya nanti, mungkin beralih ke sumber Renewable Energy bisa menjadi pilihan. Seperti REEF sebagai aplikasi financing berbasis Blockchain yang hadir untuk memberi solusi bagi terciptanya kelestarian lingkungan dengan Solar Panel yang di produksi oleh perusahaan JSKY sebagai partner. REEF berkomitmen untuk menghasilkan energi bersih dan juga menginspirasi masyarakat untuk segera beralih ke Renewable Energy serta menjaga kelestarian lingkungan. Ingin tahu selengkapnya langsung saja klik www.reef.id untuk informasi selengkapnya.

Posted on

Permudah Kehidupanmu dengan Renewable Energy

Permudah Kehidupanmu dengan Renewable Energy

Teringat kembali pada beberapa bulan yang lalu, di siang hari yang amat terik, matahari sudah sampai di atas kepala. Hal ini membuat Angga berkeringat sejak keluar dari kostannya dan jalan kaki sampai ke kampus, belum lagi ini mendekati akhir bulan dimana membuat Angga sejenak berpikir tentang keuangannya. Beberapa menit sampai di kampus dan masuk kelas, Angga langsung fokus memperhatikan dosen yang sedang menerangkan. Hanya sebentar perkuliahan hari ini, sehingga ia tidak terlalu lama di kampus. 

Ketika pulang ke kostannya, Angga dibangunkan dengan suara meteran listrik di depan kamarnya yang menandakan token listrik akan habis dan mati. Angga terburu-buru langsung pergi ke ATM terdekat untuk melihat saldo. Rp. 20.000, Angga kemudian melihat dompet yang berisi 3 lembar uang kertas yang totalnya Rp. 30.000. Hanya total Rp. 50.000 mana cukup untuk membeli pulsa token listrik, belum lagi kebutuhan lainnya akan habis akhir bulan ini. 5 hari lagi Angga baru ditransfer orang tuanya, dan itu membuat Angga terdiam sejenak.

Hari sudah mulai sore, Angga akhirnya menghemat listrik dengan mematikan lampu, mencabut kabel yang tersambung dengan stop kontak yang tidak sedang dipakai demi bisa charge handphone selama 5 hari kedepan. Tiba-tiba ada yang mengetok pintu kamarnya dan segeralah Angga membuka pintu dan ternyata yang mengetok adalah penjaga kostan.”Kok gelap-gelapan Mas?” tanya Pak Bondan sambil mengintip sudut kamar Angga yang masih diterangi sedikit cahaya dari matahari. Biasa pak, akhir bulan belum dapat kiriman dari orang tua” kata Angga sambil menunjuk meteran listrik yang berbunyi dengan muka yang agak malu. Angga kembali duduk terdiam di kamar, untung saja batere handphonenya masih 80%. Hari sudah menjelang malam dan matahari pun mulai tenggelam. Hanya cahaya dari handphone yang menyinari wajah Angga sambil melihat-lihat aplikasi yang ada di handphonenya, tidak tau apa yang akan Angga lakukan malam ini.

Menjelang pukul 7 malam, Reno datang ke kostan Angga dengan niatan untuk mengajak makan dan sekedar main. Melihat kondisi kamar Angga yang gelap, Reno pun terkejut dan merasa kasihan kepadanya. “Mending pindah aja ke kostan yang lebih murah, besok gue temenin cari” ucap Reno, Angga pun hanya mengangguk untuk menandakan setuju. Setelah itu, Angga mengikuti ajakan Reno keluar kostan untuk mencari angin dan menemani Reno makan malam. Sampai di kostan Angga, Reno pun menjelaskan bahwa di kostan Reno sudah tidak lagi menggunakan meteran listrik dan tidak perlu membayar listrik setiap bulannya. Tetapi kostan yang ditempati Reno sudah penuh dipesan sampai beberapa bulan kedepan. Setelah mencari tahu, ternyata kostan yang ditempati Reno memakai Solar Panel, sehingga lebih hemat listrik. Mengetahui hal tersebut, Angga pun mencoba membujuk Pak Bondan selaku penjaga kostan untuk menggunakan apa yang sudah dijelaskan oleh Reno. “Pak, kostan temen saya udah ngga pake token-token lagi. Kostannya sekarang pake Solar Panel, jadi lebih hemat. Bapak gak mau pakai Solar Panel aja? Biar lebih hemat dan banyak yang mau kost disini” tanya Angga kepada Pak Bondan yang baru mengetahui apa itu Solar Panel.

“Alat apa itu mas? Saya baru tau ada yang namanya Solar Panel” tanya Pak Bondan dan dijawab oleh Reno “Solar Panel ini pokoknya alat yang biasa di atas atap rumah yang bisa menghasilkan listrik tapi pakai energi matahari pak, lebih hemat sama ramah lingkungan dan alat ini bisa dipakai sampai 20 tahunan kira-kira begitu pak.” Untuk lebih menjelaskan lagi tentang Solar Panel ini ke Pak Bondan, Reno pun menambahkan lagi, Solar Panel walaupun pakai energi matahari untuk menyalurkan listrik tetapi Solar Panel masih bisa dipakai saat malam hari karena Solar Panel ini bisa menyimpan energi listriknya sendiri dan ada baterenya untuk menyimpan energi tersebut. Jadi ibaratnya, kalau siang hari Solar Panel ini sedang di charge pakai sinar matahari. Jadi modelnya seperti handphone aja begitu. Lalu, Pak Bondan pun mulai mengerti namun diraut wajahnya masih menandakan sikap ketidak tertarikannya dengan alat yang bernama Solar Panel ini. 

Kemudian beberapa bulan pun berlalu, Angga kini akhirnya sudah pindah ke kostan yang memiliki fasilitas yang lebih modern dan salah satunya kostannya di dukung kelistrikannya dengan menggunakan Solar Panel. Angga pun tidak ada lagi mengeluhkan pembayaran listrik di akhir bulan karena sekarang bisa lebih hemat dengan Solar Panel tersebut. Dalam beberapa bulan ini pun beberapa kostan di dekat kampusnya sudah mulai beralih dari listrik token menjadi memakai Solar Panel. Lalu, Angga pun kemudian bertemu kembali dengan Pak Bondan yang tidak lain adalah penjaga kostannya yang dulu. “Eh mas Angga, apa kabar? Sekarang tinggal dimana? Ngomong-ngomong sekarang kostan saya juga sudah pakai Solar Panel loh, ternyata pakai token berat juga ya mas dan rumit” ucap Pak Bondan. Angga pun membalas bertanya dimanakah Pak Bondan memasang Solar Panelnya. Pak Bondan pun menjawab bahwa ia memasang Solar Panelnya lewat REEF. Angga pun senang karena Pak Bondan akhrinya mendengarkan saran dari Reno temannya untuk memakai Solar Panel melalui REEF. Karena REEF merupakan aplikasi financing berbasis Blockchain yang dapat memudahkan konsumen untuk memperoleh Solar Panel dari perusahaan JSKY selalu produsen Solar Panel tersebut, tentunya dengan sistem cicilan bertahap sehingga biayanya pun tidak begitu berat.

Oleh karena itu, REEF adalah solusi anda untuk mempermudah aliran listrik di kehidupan anda di zaman modern seperti ini dan salah satu cara untuk memanfaatkan panasnya matahari yaitu lewat penyediaan Solar Panel. Dengan mengubah gaya hidup anda dan beralih ke Solar Panel, anda minimal sudah turut membantu dalam kelestarian lingkungan. Tentunya dengan misi menjangkau seluruh masyarakat Indonesia untuk beralih ke Renewable Energy. Yuk mulai beralih dan pasang Solar Panel ini melalui REEF! Ingin tahu lebih banyak, langsung saja klik www.reef.id untuk informasi selengkapnya.

Posted on

Mencoba Berhemat Dengan REEF

Mencoba Berhemat dengan REEF

Deni yang sehari-harinya membuka usaha laundry harus memutar otak bagaimana agar cucian pelanggannya bisa tetap selesai sesuai waktu yang ditentukan. Untuk memastikan bahwa cuciannya selesai, ia pun mencoba berbagai macam cara dan ia berusaha untuk mencuci semua cucian pelanggannya semampunya dengan dibantu beberapa karyawannya. Hal ini dilakukan karena di wilayahnya terjadi pemadaman listrik yang tak kunjung menyala dan tidak ada tanda tanda sampai kapan listriknya akan menyala. Deni merupakan pengusaha laundry yang  sudah cukup terkenal di wilayahnya, bisnis ini sudah digeluti oleh Deni sejak tiga tahun lamanya, karena rasa ingin membantu mengingat di wilayahnya banyak warga yang malas untuk mencuci pakaian yang menjadi faktor pendorong baginya untuk membuka usaha yang kini sedang dia geluti. Dia menganut prinsip dalam membantu orang di sekitar dapat diciptakan peluang mendapatkan uang.

Namun hari ini merupakan hari yang buruk baginya karena tiba-tiba listrik di tempat usahanya padam. Pada awalnya Deni masih terlihat santai dengan adanya pemadaman listrik ini, karena ia berasumsi bahwa hal tersebut sering terjadi dan tidak akan lama. Tetapi ketika Deni menunggu dari siang hingga sore, ia pun mulai gelisah dan mulai khawatir karena cucian pelanggannya tidak dapat selesai sesuai waktu yang ditetapkan. Deni pun berusaha untuk menghubungi teman-temannya untuk menanyakan apakah ada yang mempunyai tenaga Genset untuk dipinjamkan agar mesin-mesin cucinya dapat berfungsi kembali sehingga cucian pelanggannya dapat terselesaikan. Yang dilakukan Deni untuk menghubungi teman-temannya menjadi sia-sia karena bukan hanya diwilayahnya saja yang mengalami pemadaman listrik. Namun, sampai di seluruh pelosok luar wilayahnya pada saat itu terjadi pemadaman listrik. Hal ini membuat Deni mesti kewalahan harus menyelesaikan cucian-cucian pelanggannya dalam waktu secepatnya karena bisnis laundry Deni merupakan bisnis cuci kilat yang dapat sehari selesai.

Ketika Deni berusaha untuk menyelesaikan cucian-cucian milik pelanggannya, Deni juga harus menerima kenyataan bahwa banyak cucian milik pelanggannya yang belum kering sehingga menimbulkan bau tidak sedap. Hal ini membuat Deni mengalami kerugian yang cukup besar karena tidak dapat mencuci pakaian-pakaian pelanggannya karena mesin cuci yang biasa dia gunakan menggunakan tenaga listrik dari PLN. Dalam kesehariannya aliran listrik memang menjadi kunci utama dalam beberapa bidang usaha, misalnya saja seperti Deni yang menggunakan listrik untuk menghidupkan mesin-mesin cuci miliknya, hal ini digunakan agar pakaian-pakain dari pelanggan Deni dapat dicuci dengan baik, sehingga dalam sehari pakaian-pakaian tersebut dapat selesai dengan rapi dan membuat pelanggan Deni tersebut puas dengan hasilnya. Dalam bisnisnya juga Deni sangat bergantung kepada listrik, bagaimana tidak? Mesin cuci, mesin pengering serta alat-alat lainnya yang digunakan oleh Deni semuanya memerlukan energi listrik. Maka dari itu ketika terjadi pemadaman listrik yang cukup memakan waktu lama tentu saja Deni mengalami kerugian yang sangat besar, karena selain cucian-cucian pelanggannya tidak selesai, hal lain yang cukup merugikan adalah hilangnya kepercayaan dari pelanggan karena cuci kilat satu harinya tidak sesuai dengan yang diharapkan. 

Bukan hanya Deni saja dengan bisnis laundry nya yang mengalami kerugian yang besar, bisnis minuman dingin milik Toni juga merugi karena adanya pemadaman listrik cukup lama dan tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu untuk pemadamannnya. Usaha minuman dingin milik Toni ini sebenarnya sudah mempunyai tenaga listrik cadangan berupa Genset, namun Genset yang berbahan bakar besnin juga tidak dapat digunakan dengan durasi yang lama karena membutuhkan bensin dalam penggunaannya. Kerugian yang dialami Toni ini bisa jadi sangat membengkak karena untuk mendinginkan minuman-minuman miliknya hampir semuanya menggunakan alat-alat bertenaga listrik dari mulai freezer untuk es batu, lalu mesin pengocok minuman dan kulkas untuk menyimpan stoknya pun menggunakan alat-alat bertenaga listrik. Dua contoh diatas merupakan usaha-usaha kecil yang bisa dibilang merupakan usaha rumahan, bagaimana jika terjadi pada usaha-usaha yang besar seperti pabrik, perkantoran dan lain sebagainya? Pada dasarnya, mungkin mereka memiliki sumber listrik cadangan seperti Genset, namun listrik tersebut juga tidak bisa bertahan lama karena membutuhkan bensin atau pun aki batere.

Sesungguhnya banyak orang yang dapat dirugikan jika listrik padam dan jika kita melihat dari sektor bisnis, ini dapat menyebabkan kerugian. Belum lagi kepercayaan pelanggan dalam bisnis atau usaha kita menjadi taruhannya, bagaimana pelanggan mau percaya jika kita tidak dapat memberikan pelayanan yang baik dan memuaskan mereka. Kerugian bisnis yang dapat terjadi ketika pemadaman listrik menimpa tentu saja ini menjadi hal yang menakutkan bagi orang-orang yang mempunyai usaha-usaha yang bergantung pada alat-alat bertenaga listrik apalagi jika kita mengalami hal serupa. Jika masyarakat sekarang mulai beralih ke Renewable Energy seperti menggunakan Solar Panel yang memakai sinar matahari dalam penggunaannya dan mengubahnya menjadi energi listrik tentu hal ini dapat meminimalisir kemungkinan-kemungkinan terburuk seperti di beberapa cerita di atas. 

Apakah anda ingin seperti Deni dan Toni yang harus menanggung kerugian akibat bisnisnya tidak berjalan akibat pemadaman listrik? Jika memang anda mulai peduli tentang dampaknya nanti, mungkin beralih ke sumber-sumber dari Renewable Energy bisa menjadi pilihan. Seperti REEF yang hadir untuk memberi solusi bagi terciptanya lingkungan yang hemat energi dan menjaga kelestarian lingkungan dengan Solar Panel yang dapat menghasilkan energi bersih dan juga menginspirasi masyarakat untuk segera beralih ke Renewable Energy. Dengan aplikasi berbasis Blockchain ini tentu anda bisa lebih mudah dalam mendapatkan Solar Panel ini serta bisa turut menjaga kelestarian lingkungan. Ingin tahu selengkapnya langsung saja klik www.reef.id untuk informasi selengkapnya.

Posted on

Dengan Memasang Solar Panel, Anda Bisa Cepat Balik Modal

Tahukah kalian bahwa harga Solar Panel di Indonesia saat ini berada di kisaran US$ 1/Watt peak (Wp) atau US$ 1.000/kilowatt peak (kWp). Jika dikonversikan dalam rupiah, maka harga Solar Panel dengan kapasitas 1 kWp sekitar Rp 13,2 juta. Ditambah biaya instalasi di atap rumah, biayanya sekitar Rp 15 juta/kWp. Untuk kebutuhan listrik rumah tangga sendiri, kira-kira perlu 1-2 kWp alias 1.000-2.000 Watt peak (Wp). Mengapa hal seperti ini sangat dibutuhkan? Karena seperti yang kita tahu potensi energi surya di Indonesia sangat besar karena letak geografisnya yang berada di garis khatulistiwa.

Solar Panel sendiri merupakan alat yang terdiri dari sel surya, aki dan baterai yang mengubah energi cahaya menjadi listrik. Solar Panel menghasilkan arus listrik searah atau DC. Untuk menggunakan berbagai alat rumah tangga yang berarus bolak-balik atau AC dibutuhkan converter  (alat pengubah arus DC ke AC). Jika Solar Panel dikembangkan di Indonesia yang memiliki keuntungan mendapat sinar matahari sepanjang tahun, hal ini sangat cocok untuk daerah-daerah di pelosok-pelosok yang sulit dijangkau oleh PLN. Solar Panel juga merupakan Renewable Energy yang ramah lingkungan. Jika dapat dikembangkan ke rumah-rumah penduduk, maka dapat menghemat energi listrik terutama di Indonesia. Misalnya, jika 1 unit sel surya untuk keperluan listrik di siang hari dan 1 unit lagi untuk menyimpan energi listrik pada malam harinya, tentu saja dapat menghemat energi listrik lumayan besar.

Sekarang sudah semakin banyak rumah-rumah yang memakai Solar Panel di atap untuk memenuhi kebutuhan listrik pada siang hari. Tapi pemakainya masih terbatas di masyarakat kelas menengah atas. Sebab, biaya yang dibutuhkan setidaknya Rp 15 juta dan masih belum menjangkau masyarakat Indonesia pada umumnya. Meski demikian uang yang diinvestasikan untuk memasang Solar Panel bisa segera kembali dalam 4 tahun dan tanpa kita sadari Solar Panel juga memberi manfaat langsung berupa penghematan tagihan listrik. Di tahun ke-8 dan seterusnya, pemilik rumah sudah bisa menikmati keuntungan dari Solar Panel karena energi dari sinar matahari tentu tak akan habis, hanya mahal di awal saja tapi selanjutnya sangat murah bukan? Serta tidak menghasilkan polusi.

Mari kita lihat seperti kisah A, pada awalnya di sebuah kota terdapat keluarga yang kaya raya dan mempunyai anak tunggal bernama A. A ini adalah anak SMA berusia 17 tahun yang selalu memikirkan dirinya sendiri, bersikap egois serta tidak pandai dalam menghemat energi. Ia sangat tidak peduli dengan penghematan listrik, karena ia berpikiran buat apa hemat listrik selagi masih bisa dibeli dan bukan ia pula yang membayar. A sendiri pun mempunyai kedua orangtua yang kaya raya, jadi biarkan orang tuanya yang menanggung dan memenuhi semua kebutuhannya beserta listrik yang dipakainya. A juga selalu menganggap dirinya adalah yang paling benar dan merasa semua hal yang ada pada dirinya penting.

“A!!! Kenapa siang-siang gini semua listrik menyala? Berapa kali sih Ibu nasihatin kamu untuk selalu menghemat listrik?” Nasihat Ibu A. “Ibu… Listrik kan untuk kebutuhan A, tanpa listrik A tidak bisa beraktivitas, lagipula kan Ibu sama Ayah orang kaya. Jadi berapapun pengeluaran listrik tidak masalah mahal atau nggaknya.” Balas A agak panjang. “Tapi tidak berlebihan juga, pakailah sebutuhnya saja. Walaupun kita kaya, kita juga harus bersedekah, menolong orang, juga menghemat kebutuhan sehari-hari.” “Terserah Ibu deh.” A pun memberanikan diri untuk menanggapi omongan ibunya. Setiap harinya, A selalu dinasihati Ibunya untuk menghemat listrik. Tetapi ucapan Ibu A tidak ada satu pun yang dilaksanakannya. Ibu A pun sangat kesal karena sikap A yang egois dan memikirkan dirinya sendiri. 

Namun 1 bulan kemudian Orangtua A mengalami kebangkrutan. Untungnya Orangtua A mempunyai simpanan uang untuk makan sehari-hari, sedangkan A tidak mengetahui hal itu karena Orangtuanya tidak ingin memberitahukan saat ini. Orangtua A sangat panik ketika mengetahui listriknya sudah hampir habis. Sore hari tepatnya, tadinya A ingin menghabiskan malam minggu bersama pasangannya tetapi akhirnya tidak jadi karena mendadak mati listrik. A yang sedang ingin mandi pun kaget dan berteriak “Ibuuuu!!! Listriknya mati.” Karena takut, A berteriak sambil menghampiri Ibunya. “Maaf Ibu baru bilang sekarang, sebenarnya Ibu dan Ayah saat ini sudah bangkrut dan hanya mempunyai persediaan uang sedikit itupun hanya untuk makan kita sehari-hari. Kan Ibu sudah pernah bilang, pakailah listrik sebutuhnya saja, jika sudah tidak dipakai matikan dan jangan ditinggalkan begitu saja.” “Ibu maafkan A yaa. A selama ini salah, seharusnya A mendengarkan perkataan Ibu. Sekarang A pun tahu bahwa listrik itu sangat bermanfaat ketika dipakai, tetapi akan merugikan ketika tidak berfungsi. “Yasudah tidak apa-apa, jangan disesali perbuatan kamu yang sudah berlalu tetapi lain kali cobalah untuk hemat listrik ya dan jika kita sudah punya uang lagi nanti, kita akan coba mengganti pemakaian listrik dengan energi alternatif lain yang lebih hemat, tentunya kamu juga harus hemat ya dalam pemakaiannya.”

Berdasarkan kisah yang dialami A diatas, untuk itu REEF sebagai aplikasi financing berbasis Blockchain hadir dalam mempermudah anda memperoleh Solar Panel. Dengan bekerjasama dengan JSKY sebagai produsen dari Solar Panel ini, kami berkomitmen dalam mengubah gaya hidup anda dan beralih ke Renewable Energy, dan anda minimal sudah menyelamatkan keluarga anda dan turut membantu dalam kelestarian lingkungan. Tentunya dengan misi menjangkau seluruh masyarakat Indonesia untuk beralih ke Renewable Energy. Yuk mulai beralih dan pasang Solar Panel ini melalui REEF! Ingin tahu lebih banyak, langsung saja klik www.reef.id untuk informasi selengkapnya.